Sabtu, 03 Desember 2016

Materi Matrikulasi Ibu Profesional Sesi #5 BELAJAR BAGAIMANA CARANYA BELAJAR

Bunda dan calon bunda yang selalu semangat belajar, 

Bagaimana sudah makin mantap dengan jurusan ilmu yang dipilih? kalau sudah, sekarang mari kita belajar bagaimana caranya belajar. Hal ini akan sangat bermanfaat untuk lebih membumikan kurikulum yang teman-teman buat. Sehingga ketika teman-teman membuat kurikulum unik (customized curriculum) untuk anak-anak, makin bisa menerjemahkan secara setahap demi setahap karena kita sudah melakukannya. Inilah tujuan kita belajar.

Sebagaimana yang sudah kita pelajari di materi sebelumnya, bahwa semua manusia memiliki fitrah belajar sejak lahir. Tetapi mengapa sekarang ada orang  yg senang belajar dan ada yang tidak suka belajar. 

Suatu pelajaran yang menurut kita berat jika dilakukan dengan senang hati maka pelajaran  yang berat itu akan terasa ringan, dan sebaliknya pelajaran yang ringan atau mudah jika dilakukan dengan terpaksa maka akan terasa berat atau sulit.

Jadi suka atau tidaknya kita pada suatu pelajaran itu bukan bergantung pada berat atau ringannya suatu pelajaran. Lebih kepada rasa. 

Membuat BISA itu mudah, tapi membuatnya SUKA itu baru tantangan

Melihat perkembangan dunia yang semakin canggih dapat kita rasakan bahwa dunia sudah berubah dan dunia masih terus berubah.

Perubahan ini semakin hari semakin cepat sekali.

Anak kita sudah tentu akan hidup di jaman yang berbeda dengan jaman kita. Maka teruslah mengupdate diri, agar kita tidak membawa anak kita mundur beberapa langkah dari jamannya.

Apa yang perlu kita persiapkan untuk kita dan anak kita ?

Kita dan anak-anak perlu belajar tiga hal : 

1⃣Belajar hal berbeda        
2⃣Cara belajar yang berbeda
3⃣Semangat Belajar yang berbeda


πŸ€ Belajar Hal Berbeda

Apa saja yang perlu di pelajari ?
yaitu dengan belajar apa saja yang bisa:

🍎Menguatkan Iman,
ini adalah dasar yang amat penting bagi anak-anak kita untuk meraih masa depannya

🍎Menumbuhkan karakter yang baik.
🍎Menemukan passionnya (panggilan hatinya)

 Cara Belajar Berbeda

Jika dulu  kita dilatih untuk terampil menjawab, maka latihlah anak kita untuk terampil bertanya Keterampilan bertanya ini akan dapat membangun kreatifitas anak dan pemahaman terhadap diri dan dunianya.

Kita dapat menggunakan jari tangan kita sebagai salah satu cara untuk melatih keterampilan anak2 kita untuk bertanya.

Misalnya :

πŸ‘Ibu jari : How
πŸ‘†Jari telunjuk : Where
✋Jari tengah : What
✋Jari manis : When
✋Jari kelingking : Who
πŸ‘Kedua telapak tangan di buka : Why
πŸ‘Tangan kanan kemudian diikuti tangan kiri di buka : Which one.

Jika dulu kita hanya menghafal materi, maka sekarang ajak anak kita untuk mengembangkan struktur berfikir. Anak tidak hanya sekedar menghafal akan tetapi perlu juga dilatih untuk mengembangkan struktur berfikirnya

Jika dulu kita hanya pasif mendengarkan, maka latih anak kita dg aktif mencari. Untuk mendapatkan informasi tidak sulit hanya butuh kemauan saja.

Jika dulu kita hanya menelan informasi dr guru bulat-bulat, maka ajarkan anak untuk berpikir skeptik

Apa itu berpikir skeptik ?

Berpikir Skeptik yaitu tidak sekedar menelan informasi yang didapat bulat-bulat. Akan tetapi senantiasa mengkroscek kembali kebenarannya dengan melihat sumber-sumber yang lebih valid.


Semangat Belajar Yang berbeda

Semangat belajar  yang perlu ditumbuhkan pada anak kita adalah :

πŸ€Tidak hanya sekedar mengejar nilai rapor akan tetapi memahami subjek atau topik belajarnya.
πŸ€Tidak sekedar meraih ijazah/gelar tapi kita ingin meraih sebuah tujuan atau cita-cita.

Ketika kita mempunyai sebuah tujuan yang jelas maka pada saat berada ditempat pendidikan kita sudah siap dengan sejumlah pertanyaan-pertanyaan. Maka pada akhirnya kita tidak sekedar sekolah tapi kita berangkat untuk belajar (menuntut ilmu).

Yang harus dipahami,

Menuntut Ilmu bukan hanya saat sekolah, tetapi dapat dilakukan sepanjang hayat kita

Bagaimanakah dengan Strategi Belajarnya?
  
• Strategi belajar nya adalah dengan menggunakan 
Strategi Meninggikan Gunung bukan meratakan lembah
Maksudnya adalah dengan menggali kesukaan, hobby, passion, kelebihan, dan kecintaan anak-anak kita terhadap hal2 yg mereka minati dan kita sebagai orangtuanya mensupportnya semaksimal mungkin.
  
Misalnya jika anak suka bola maka mendorongnya dengan memasukkannya pada club bola, maka dengan sendirinya anak akan melakukan proses belajar dengan gembira.

🚫 Sebaliknya jangan meratakan lembah

yaitu dengan menutupi kekurangannya,

Misalnya apabila anak kita tidak pandai matematika justru kita berusaha menjadikannya untuk menjadi pandai matematika dengan menambah porsi belajar matematikanya lebih sering (memberi les misalnya).

Ini akan menjadikan anak menjadi semakin stress.

Jadi ketika yang kita dorong pada anak-anak kita adalah keunggulan / kelebihannya maka anak-anak kita akan melakukan proses belajar dengan gembira.

Orang tua tidak perlu lagi mengajar atau menyuruh-nyuruh anak untuk belajar akan tetapi anak akan belajar dan mengejar sendiri terhadap informasi yang ingin dia ketahui dan dapatkan. Inilah yang membuat anak belajar atas kemauan sendiri, hingga ia melakukannya dengan senang hati.

Bagaimanakah membuat anak menjadi anak yang suka belajar ?
Caranya adalah :
1⃣ Mengetahui apa yang anak-anak mau / minati
2⃣Mengetahui tujuannya, cita-citanya
3⃣Mengetahui passionnya

Jika sudah mengerjakan itu semua maka anak kita akan meninggikan gunungnya dan akan melakukannya dengan senang hati.

 Good is not enough anymore we have to be different

Baik saja itu tidak cukup,tetapi kita juga harus punya nilai lebih (yang membedakan kita dengan orang lain).

Peran kita sebagai orang tua :
πŸ‘¨‍πŸ‘©‍πŸ‘§‍πŸ‘§Sebaga pemandu : usia 0-8 tahun.
πŸ‘¨‍πŸ‘©‍πŸ‘§‍πŸ‘§Sebagai teman bermain anak-anak kita : usia 9-16 tahun.
kalau tidak maka anak-anak akan menjauhi kita dan anak akan lebih dekat/percaya dengan temannya
πŸ‘¨‍πŸ‘©‍πŸ‘§‍πŸ‘§sebagai sahabat yang siap mendengarkan anak-anak kita : usia 17 tahun keatas.

Cara mengetahui passion anak adalah : 
1⃣ _Observation_ ( pengamatan)
2⃣ _engage_(terlibat)
3⃣ _watch and listen_ ( lihat dan dengarkan suara anak)

Perbanyak ragam kegiatan anak, olah raga, seni dan lain-lain.

Belajar untuk telaten mengamati, dengan melihat dan mencermati terhadap hal-hal yang disukai anak kita dan apakah konsisten dari waktu ke waktu.

Diajak diskusi tentang kesenangan anak, kalau memang suka maka kita dorong.

Cara mengolah kemampuan berfikir Anak dengan :
1⃣Melatih anak untuk belajar bertanya,
Caranya: dengan menyusun pertanyaan sebanyak-banyaknya mengenai suatu obyek.

2⃣Belajar menuliskan hasil pengamatannya Belajar untuk mencari alternatif solusi atas masalahnya
3⃣Presentasi yaitu mengungkapkan akan apa yang telah didapatkan/dipelajari
4⃣Kemampuan berfikir pada balita bisa ditumbuhkan dengan cara aktif bertanya pada si anak.

Selamat belajar dan menjadi teman belajar anak-anak kita,

Salam Ibu Profesional,

/Tim Matrikulasi IIP/

Sumber bacaan :
_Dodik Mariyanto, Learning How to Learn, materi workshop, 2014_
_Joseph D Novak, Learning how to learn, e book, 2009_

Tanya Jawab dan Diskusi

1. Mutia
a. Pada usia anak berapa kita bisa mengenalkan beragam kegiatan pada anak?
b. yg dimaksud mengenalkan itu, apakah dengan ikut les ini dan itu ataukah seperti apa?
c. Melihat 2 ponakan saya pada rentang usia 1,5-3 tahun mereka aktif bertanya ini apa? Apa? Apa? Dan apa? Apakah direntang usia itukah kita juga mulai mengajarkan anak bertanya? Dengan cara bagaimana? Kalo diperhatikan secara naluriah memang diusia itu mereka begitu banyak bertanya... Haturnuhun (Catatan : saya belum punya anak 😁)
Jawab:
a. Sedini mungkin teh..tentunya disesuaikan dengan milestone perkembangan anak. Usia bayi pun sudah bisa (harus) dikenalkan dengan berbagai kegiatan. Misalnya mestimulus respon sensorisnya. Pendengaran, penglihatan, indra peraba, perkenalan dgn keluarga inti. Beberapa ahli berpendapat bahwa proses belajar sudah dimulai sejak janin berdetak dalam kandungan✅
b. Anak akan belajar secara natural saat dia mengalami. Jadi, perbanyak kegiatan bersama anak. Biarkan dia menjadi pelaku utamanya, orangtua sebagai fasilitator sekaligus observer. Kaya Kegiatan akan membuat anak Kaya Wawasan, sehingga kelak anak akan Kaya Gagasan.
Konsep Les sebaiknya diikuti saat anak sudah menemukan bakat spesifiknya. Les menjadi sarana mempertajam skillnya. Belajar bersama maestro (ahli) ✅
c. Betul sekali Teh Muti.. setelah bisa berbicara, mulai usia 2tahun anak mulai sering bertanya. "Ini Apa..?" Lalu "kenapa?". Bertanya adalah modal belajar yang sangat penting: Intellectual Curriousity nya mulai muncul. Kita bantu agar anak puas dengan curriousnya, atau pancing agar anak tambah currious. Rasa ingin tahu yang subur mendorong anak ingin belajar secara alami sesuai dengan gayanya.
Teh Muti bisa membuat Dialy IC activity. Contoh IC activity (Pengalaman awal2 IC):
         Aktivitas: berjemur pagi (Anak mengalami).
         Saya: Hangat ya... terang ya.. silau..
         Shafa: Iya..anget
         Saya:  Kok hangat, ada *Apa* ya..?
         Shafa: Matahariii.
         (Beri apresiasi. Pintar..dsb)
         saya: Apa ya manfaat matahari?
         Biarkan anak menjawab sendiri.
         Kemudian, kita pandu.
         Saya: *Siapa* yang menciptakan Matahari?
Sisipkan nilai keimanan dan imaji2 positif tentang Tuhannya. Allah baik ya menciptakan matahari.
IC bisa dikembangkan berdasarkan usia anak. Next:
*Mengapa* matahari itu panas?.
*Berapa* suhu matahari?.
*Bagaimana jika* tidak ada matahari?.
Bagaimana jika energi matahari digunakan untuk mobil?, dsb..
Alam sekitar, benda-benda di rumah, bisa dijadikan sarana menumbuhkan IC ✅
2. Michelle
a. Teh untuk peran kita sebagai ortu usia 0-8 thn sebagai pemandu, boleh dijabarkan dan dicontohkan seperti apa?
b. Ketika anak bertanya hal2 yg kita belum tau jawaban nya
bagaimana kiat2 menjawab ke anak, apakah sementara bisa di 'pending' dulu,misal "nanti jawaban nya bunda peer in dulu ya" atau dijawab sekena nya saja? Karena umumnya anak2 pasti ngejar bertanya sampai dapet jawaban yg memuaskan 😁
Nuhun
Jawab
a. Orangtua sebagai fasilitator: menemani aktifitas belajar anak, seperti jawaban no.1. Selain itu ortu sebagai observer dan evaluator. Membuat kurikulum dan lesson plan sesuai karakteristik khas anak ✅
b. Betul sekali teh..anak akan terus bertanya. Jika kita tidak tahu, bisa dengan mencari jawaban bersama dengan anak. "Yuk, kita buka buku", atau internet. Mencari jawaban yang berkolerasi, tidak tepat tidak mengapa. Yang terpenting interaksi dari hati ke hati dan apresiasi kita terhadap keingintahuannya ✅
3. Seruni
a. Bagaimana menyikapi anak yang gemar bertanya yang kelewat kritis? Terkadang kapasitas keilmuan kita kurang memadai untuk menjawab semua pertanyaannya. Khawatir jawaban yang kurang memuaskan membuatnya jadi malas bertanya dan melemahkan intelectual curiousity-nya.
b. Jika kita fokus meninggikan gunung, apakah cukup bijak dengan 'membiarkan' kelemahannya? Apakah salah jika kita mencari cara / trik belajar agar anak menyenangi pelajaran yang tidak disukainya?
syukran. 😊
Jawab:
a. Mirip dengan pertanyaan Teh Michelle No.2 ya teh ✅
b. Triknya, bisa melalui hal yang disukainya teh. Cerita yang saya dapat dari seminar IIP oleh Bu Septi. Seorang anak Dosen kimia Univ ternama, anaknya tidak suka kimia sama sekali, dia suka seni dan ingin masuk FSRD. Pada awalnya sang ayah menilai itu seperti tidak pantas. Setelah diskusi dengan abah Rama, sang Ayah luluh. Si anak lolos FSRD. Saat kuliah, ada pelajaran material yang isinya adalah ilmu kimia. Anaknya menjadi suka kimia dan execellent.
Itulah mengapa, kita fokus pada gunungnya bukan lembah ✅
4. Winny
a. Saya tidak paham dengan "metode jari tangan untuk melatih kemampuan bertanya anak". Bisa dijelaskan lebih detail, teh?
b. Teh, bisa diberikan tips dan trik menjalankan peran orangtua sebagai pemandu, teman bermain, dan sahabat anak yang sebaiknya?
Saya pernah mengamati orangtua yang sangat dekat dengan anak dan menjadi teman bermain/sahabat namun anak2nya menjadi melewati batas etika dan kurang menghormati orangtuanya. Bagaimana kita menjalankan 3 peran itu namun tetap berada di koridor etika orangtua-anak?
Jawab
a. Ada di video ya✅
b. Itu sebabnya adab sebelum ilmu itu sangat penting. Internalisasi nilai2, akhlak, budaya keluarga menjadi bekal mendasar. Orangtua perlu memiliki wibawa (prinsip). Cair saat bermain, tapi tegas (konsisten) pada aturan. Usia balita belum mengerti norma, jika ada penyimpangan segera diluruskan tanpa hukuman. Jangan sampai ada trauma. Usia diatas 7 tahun sudah ditegaskan hitam putih, 10 tahun jika masih menyimpang perlu dihukum ✅
5. Asfira
Assalaamualaykum..Saya ingin bertanya. Jika tidak disarankan untuk meratakan lembah, bagaimana caranya utk memotivasi anak agar semangat mengejar ketertinggalan di bidang studi tertentu? Kasusnya: anak saya yg kls 4, biasanya suka matematika, dan dia cukup mampu. Tapi 2 bulan lalu dia sempat tidak masuk sekolah selama 3 pekan karena sakit, dan ketinggalan banyak pelajaran, termasuk matematika. Ternyata bab2 yg tertinggal cukup susah, dan dia tiba2 stress berat kalau diajak oleh saya belajar bab tersebut. Bagaimana caranya untuk membuat anak saya enjoy kembali dg matematika? Karena sekarang dia cenderung berpikiran matematika itu terlalu sulit, dan jadi ogah2an utk belajar, padahal saya tau kalau dia sebenarnya mampu asalkan sudah mengerti dan banyak melakukan latihan soal. Terima kasih...
Jawab:
πŸ€     TFM
Sampaikan matematika dengan cara yang disukai anak. Saya teringat sharing dari teh Dita Wulandari yang menjalankan HS. Saat itu beliau mengajar konsep pembagian pada anaknya. Bermacam cara ditempuh, anaknya belum paham, makin lama malah makin enggan saat sesi belajar matematika. Teh Dita memikirkan cara lain. Maka dibiarkannya saja dulu sang anak bermain. Sesi matematika skip. Ternyata momen AHAnya ada saat bermain lego. Saat melihat sang anak antusias sekali bermain lego, teh Dita memegang beberapa lego dan menyusunnya. Jadilah bahan pembelajaran pembagian.
Respon sang anak, "Oh, jadi pembagian itu begitu bunda? Kalau begitu saja, aku bisaaa..."
Muatan materinya sama, tapi metode belajarnya yang sesuai/disukai anak.
Catatan: pelajaran yang wajib di pelajari oleh seorang anak adalah bahasa dan matematika. Jadi mau gak mau pelajaran matematika harus diberikan, makanya bu Septi memasukan matematika di kurikulum bunda sayang.
Pernyataan ini saya dapatkan di SfHF (school for homeschool facilitator) bulan maret yang lalu. Memang tidak ada sumber khusus yang mewajibkan matematika dan bahasa menjadi menu wajib pendidikan anak.
Itu adalah menu wajib yang di berlakukan di padepokan margosari.Dengan pertimbangan bahwa dengan mempelajari matematika sang anak akan berpikir sesuai dengan logikanya dan melatih truktur berpikir. Dan bahasa adalah alat penunjang penting untuk berkomunikasi baik lisan maupun tulisan. Sebagai modal untuk mempelajari hal2 yang lain.
Mohon maaf bila saya ceroboh dg tidak menuliskan sumbernya. πŸ™πŸ™πŸ™
Setiap keluarga bebas menentukan menu wajib bagi pendidikan anak2nya.✅
πŸ€     Deasy
Kapanpun&dimanapun sejatinya anak2 kita bisa belajar apa saja. Krn Allah telah instalkan fitrah belajar pada diri mereka. Tinggal ortunya yang sabar niteni 😊.
Kalau kata seorang praktisi pendidikan berlingkung (bang Ical), manfaatkan RuaNGakal, Tahapannya sederhana: Empati, Imajinasi, Solusi (Emisol) πŸ™πŸΎ
Setiap keluarga unik, setiap anak istimewa. Shgga bebas menginspirasi&mengeksplore fitrah belajar&bakat yg sudah ada dlm dirinya. CmiiwπŸ™πŸΎπŸ˜ŠπŸ˜Š
6. Sri
Mengenai meratakan lembah, misal : anak tidak terlalu menonjol dalam matematika atau malah tidak suka, dan kita pun sebagai fasilitator tidak memaksakan untuk terus menerus memberikan stimulasi tentang matematika.
Nah someday kita coba ubah strateginya, tidak memasang target anak harus bisa matematika A B C dalam waktu sekian (walau pasti akan memakan waktu yang lebih lama). Tentunya dengan aktifitas yang menyenangkan si anak dan tanpa paksaan.
Tapi apa itu tetap berusaha meratakan lembah?
Mohon masukkannya teh πŸ™πŸ»
Jawab :
Sepemahaman saya tidak teh. Pelajaran yang terlihat menjadi momok bagi anak, perlu ditelusuri lebih lanjut. Apakah anak
memang lemah di bidang tersebut? Atau, metode penyampaian materinya yang tidak sesuai dengan anak?
Bisa jadi karena metode penyampaiannya yang kurang pas. Untuk ini perlu belajar dengan cara yang berbeda. Bisa dimulai dari hal-hal yang disukai anak. ✅
7. Dwi
Kalo anak suka matematika (usia 8thn), contoh stimulasinya apa aja ya kira2 teh?
Jawab:
πŸ€     Sri
Ini ada sedikit catatan kecil saya ketika ikut diskusi bunda sayang bab gemar matematika di RB Cikutra beberapa bulan lalu. Dan mulai saya terapkan pada Hana (almost 3y)
***
Ada beberapa kasus anak kurang tertarik dengan math, cenderung bosan, sulit memahami. Nah, Teh Dita, sebagai narasumber diskusi ini, menyarankan agar anak mulai belajar math dengan proses berikut --> mengenal bilangan --> proses membilang --> simbol bilangan. Proses tsb haruslah dilalui anak secara berurutan dan bertahap agar anak tidak bingung.
Selain hal tadi, faktor lain yang mendukung anak untuk menyukai math adalah mulailah bermain  dengan hal yang kongkret terlebih dahulu sebelum hal abstrak. Misalnya, tunjukan bilangan satu dengan adanya satu buah apel di depan si anak. Hindari memberikan worksheet (walaupun sederhana dan bergambar menarik) sebelum anak paham dengan konsep yang kongkret.
πŸ€     TFM
Misal, saat menaiki anak tangga sambil berhitung.

8. Seruni
Kenapa matematika jadi kurikulum wajib, teh?
apa karena hampir semua aspek kehidupan kita berhubungan dengan perhitungan? atau ada motif khusus, teh?
Jawab :
Putri
Kalau waktu saya kuliah, dosen kalkulus saya blg.. matematika itu sebenarnya untuk melatih pola pikir, teh.. *cmiiw
9. Damayanti
Teteh mau nanya.. bagaimana dengan anak yg tidak mudah bergaul.. apakah kita biarkan saja atau tetap kita 'cemplungin' di tengah2 orang banyak? Apa ini termasuk meratakan lembah?
Jawab:
Deasy
Izin berbagi.
Teh Damayanti. Utk anak yg masih di bawah 7thn, masih wajar klau belum mudah bergaul krn masih masa egosentris. Anak masih dlm fase mengenal&memahami keluarga inti&lingkungan terdekat. Klau sdh 7thn ke atas, baru mulai diberi ruang utk bersosialisasi lbh luas.
10. Seruni
matematika wajib ya.. kalo bahasa, maksudnya bahasa ibu?
Jawab :
Iya, untuk awal bahasa ibu, di atas 7 tahun boleh diperkenalkan bahasa asing.

Materi Matrikulasi Ibu Profesional Sesi #4 MENDIDIK DENGAN KEKUATAN FITRAH

Bunda, setelah kita memahami bahwa salah satu alasan kita melahirkan generasi adalah untuk membangun kembali peradaban dari dalam rumah kita, maka semakin jelas di depan mata kita, ilmu-ilmu apa saja yang perlu kita kuasai seiring dengan misi hidup kita di muka bumi ini. Minimal sekarang anda akan memiliki prioritas ilmu-ilmu apa saja yang harus anda kuasai di tahap awal, dan segera jalankan, setelah itu tambah ilmu baru lagi. Bukan saya, sebagai teman belajar anda di IIP selama ini, maupun para ahli parenting lain yang akan menentukan tahapan ilmu yang harus anda kuasai, melainkan DIRI ANDA SENDIRI

Apakah mudah? TIDAK.  Tapi yakinlah bahwa kita bisa membuatnya menyenangkan. Jadilah diri anda sendiri, jangan hiraukan pendapat orang lain. Jangan silau terhadap kesuksesan orang lain. Mereka semua selalu berjalan dari KM 0, maka mulai tentukan KM 0 perjalanan anda tanpa rasa “galau”.

Inilah sumber kegalauan diri kita menjalankan hidup, kita tidak berusaha memahami terlebih dahulu apa“misi hidup” kita sebagai individu dan apa “misi keluarga” kita sebagai sebuah komunitas terkecil. Sehingga semua ilmu kita pelajari dengan membabi buta dan  tidak ada yang dipraktekkan sama sekali. Semua seminar dan majelis ilmu offline maupun online kita ikuti, karena kekhawatiran tingkat tinggi akan ketertinggalan ilmu kekinian, tapi tidak ada satupun yang membekas menjadi jejak sejarah perjalanan hidup anda.

Check List harian sudah anda buat dengan rapi di Nice Homework#2, surat cinta sudah anda buat dengan sepenuh hati  di Nice Homework #3. Bagi yg sudah menemukan misi hidup dan misi keluarga, Misi tersebut sudah kita tulis besar-besar di dinding kamar, tapi anda biarkan jadi pajangan saja. Maka “tsunami informasilah” yang anda dapatkan, dan ini menambah semakin tidak yakinnya kita kepada “kemampuan fitrah” kita dalam mendidik anak-anak. 

“Just DO It”,
lakukan saja meskipun anda belum paham, karena Allah lah yang akan memahamkan anda lewat laku kehidupan kita.

Demikian juga dengan pendidikan anak-anak. Selama ini kita heboh pada Apa yang harus dipelajari anak-anak kita,  bukan pada Untuk apa anak-anak mempelajari hal tersebut Sehingga banyak ibu-ibu yang bingung memberikan muatan-muatan pelajaran ke anak-anaknya tanpa tahu untuk apa anak-anak ini harus melakukannya. 

Ada satu kurikulum pendidikan yang tidak akan pernah berubah hingga akhir jaman, yaitu 

PENDIDIKAN ANAK DENGAN KEKUATAN FITRAH

Tahap yang harus anda jalankan adalah sbb:

a.Bersihkan hati nurani anda, karena ini faktor utama yang menentukan keberhasilan pendidikan anda.
b. Gunakan Mata Hati untuk melihat setiap perkembangan fitrah anak-anak. Karena sejatinya sejak lahir anak-anak sudah memiliki misi spesifik hidupnya, tugas kita adalah membantu menemukannya sehingga anak-anak tidaka kan menjadi seperti kita, yang telat menemukan misi spesifik hidupnya.
c. Pahami Fitrah yang dibawa anak sejak lahir itu apa saja. Mulai dari fitrah Ilahiyah, Fitrah Belajar, Fitrah Bakat, Fitrah Perkembangan, Fitrah Seksualitas dll. 
d. Upayakan proses mendidik yang sealamiah mungkin sesuai dengan sunatullah tahap perkembangan manusia. Analogkan diri anda dengan seorang petani organik.
e. Selanjutnya tugas kita adalah MENEMANI, sebagaimana induk ayam mengerami telurnya dengan merendahkan tubuh dan sayapnya, seperti petani menemani tanamannya. Bersyukur atas potensi dan bersabar atas proses. 

Semua riset tentang pendidikan ternyata menunjukkan bahwa semakin berobsesi mengendalikan, bernafsu mengintervensi, bersikukuh mendominasi dsbnya hanya akan membuat proses pendidikan menjadi semakin tidak alamiah dan berpotensi membuat fitrah anak anak kita rusak.

f. Manfaatkan momen bersama anak-anak, bedakan antara WAKTU BERSAMA ANAK dan WAKTU DENGAN ANAK. Bersama anak itu anda dan anak berinteraksi mulai dari hati, fisik dan pikiran bersama dalam satu lokasi. Waktu dengan anak, anda dan anak secara fisik berada dalam lokasi yang sama, tapi hati dan pikiran kita entah kemana.

g. Rancang program yang khas bersama anak, sesuai dengan tahap perkembangannya, karena anak anda “very limited special edition” 

Bunda, mendidik bukanlah menjejalkan, mengajarkan, mengisi dsbnya. Tetapi pendidikan, sejatinya adalah proses membangkitkan, menyadarkan, menguatkan fitrah anak kita sendiri.

Lebih penting mana membuat anak bergairah belajar dan bernalar atau menguasai banyak pelajaran, lebih penting mana membuat mereka cinta buku atau menggegas untuk bisa membaca.

Jika mereka sudah cinta, ridha, bergairah maka mereka akan belajar mandiri sepanjang hidupnya. 

Salam Ibu Profesional,


/Tim Matrikulasi Ibu Profesional/



Sumber bacaan :
Irawati Istadi, Mendidik dengan Cinta, Jogjakarta, 2013
Harry Santosa dkk, Fitrah Based Education, Jakarta, 2016
Antologi, Komunitas Ibu Profesional, Bunda Sayang, Surakarta, 2014
Materi Matrikulasi sesi #3, Membangun Peradaban dari Dalam Rumah, 2016


Sesi Tanya Jawab :

1. winny :
a. Teh, bisa dijelaskan lebih detail mengenai berbagai fitrah yang dibawa anak sejak lahir (fitrah ilahiah, fitrah bakat, dll)?
Seringkali mata hati kita tertutup akan fitrah anak karena tingginya tuntutan kebutuhan dan standar hidup saat ini. Bagaimana kita mengaktifkan kembali mata hati kita?
b. "Upayakan proses mendidik yang sealamiah mungkin...".
Apakah pendidikan di sekolah formal termasuk alamiah, teh? Karena yang saya rasakan dan amati, banyak sekali ilmu2 (hardskills) yang diberikan di sekolah formal namun seringkali abai mengukur kemampuan tiap anak menerima ilmu tsb dikarenakan banyaknya murid yg harus diajar.
Saya sejak kecil selalu mempertanyakan hal ini -apakah ilmu2 ini akan saya ingat semua? - apakah semua ilmu2 ini akan bermanfaat bagi hidup saya kelak? - Dan jawaban yang saya temukan saat ini adalah "tidak, hanya sebagian saja ilmu yang saya ingat & manfaatkan". Karena itu saat ini saya ragu memasukkan anak saya ke sekolah formal.

➡ teh Winny yang shalihah...
1. Mengacu dari buku FBE ust.Harry Santosa, inti fitrah manusia ada 4, yaitu :
a. Fitrah Keimanan
b. Fitrah Perkembangan
c. Fitrah Belajar
d. Fitrah Bakat

Keterangannya ada dalam gambar di bawah ini :

Seringkali mata hati kita tertutup akan fitrah anak karena tingginya tuntutan kebutuhan dan standar hidup saat ini. Bagaimana kita mengaktifkan kembali mata hati kita? ➡ dengan melakukan Tazkiyatunnafs secara berkesinambungan. Memandang anak kita seperti pertama kali kita melihatnya, mendampinginya sepenuh hati (menghadirkan 100% diri kita) melepaskan pengharapan kita terhadap anak-anak kita, tidak menitipkan mimpi-mimpi kita yang belum tercapai. Sebagai fasilitator, kita hanya memberikan stimulus pada anak kita tanpa memaksakan dan menjejalinya. Seperti kata Albert Einstein : "I never teach my puppils I only attempt to provide the conditions in which they can learn"
sumber : Materi SfHF (padepokan margosari.com)

b. "Upayakan proses mendidik yang sealamiah mungkin...".
Apakah pendidikan di sekolah formal termasuk alamiah, teh? Karena yang saya rasakan dan amati, banyak sekali ilmu2 (hardskills) yang diberikan di sekolah formal namun seringkali abai mengukur kemampuan tiap anak menerima ilmu tsb dikarenakan banyaknya murid yg harus diajar.
Saya sejak kecil selalu mempertanyakan hal ini -apakah ilmu2 ini akan saya ingat semua? - apakah semua ilmu2 ini akan bermanfaat bagi hidup saya kelak? - Dan jawaban yang saya temukan saat ini adalah "tidak, hanya sebagian saja ilmu yang saya ingat & manfaatkan". Karena itu saat ini saya ragu memasukkan anak saya ke sekolah formal ➡ Wajar kalau saat ini teh Winny merasa ragu akan kurikulum yang diberlakukan di Indonesia saat ini. Untuk menyekolahkan anak di Sekolah formal maupun home schooling itu adalah pilihan, tapi jangan sampai menjadi pilihan orang tua, biarkan anak yang memilih. Untuk menentukan apakah anak perlu melalui sekolah formal atau HS, kita lihat dulu tujuan akhir (goal) pendidikan anak-anak kita. Diskusikan pada sang anak, apakah cita-cita mereka di masa yang akan datang (start from the finish line) tentunya itulah yang akan menentukan pilihan mereka.

Teringat cerita bu Septi saat anak-anak beliau menginjak usia sekolah, beliau menunjukkan sekolah A, B, C dst. Setelah itu, beliau memberikan pilihan pada anak-anaknya, mau di sekolah A, di sekolah B, atau tidak sekolah? Dan kemudian anak-anak beliau mengambil pilihan tidak sekolah.

2. πŸ™‹ Ummu tazkiya
Teh mau tnya.yg itu kan kurikulum sesuai fitrah.trus yg kurikulum sekolah ky sd gitu d kemanakan? Trus dpt ijazah nya gmn?sykrn ➡ Ummu Tazkiya yang bersemangat, kurikulum fitrah ini merupakan kurikulum wajib yang perlu kita berikan sebagai orang tua melalui HE (Home based Education) sesuai dengan tahapan usia. Sedangkan kurikulum sekolah, pihak sekolah yang memberikannya kepada murid sekolahnya. Tugas kita sebagai ortu dari anak yang bersekolah adalah mengajak pihak sekolah untuk seiring sejalan dengan misi pendidikan kita pada anak-anak.
Bu Septi pernah share saat beliau memasukkan mba Enes dan mba Ara ke sekolah formal. Langkah ini dilakukan karena anak-anak beliau membutuhkan aktivitas di organisasi sekolah (OSIS), maka beliau melobi pihak sekolah untuk memperbolehkan anak-anak beliau aktif dalam organisasi tsb, sedangkan urusan ketuntasan pelajaran menjadi tanggungjawab ortu sepenuhnya. ✅

3. πŸ™‹Nur Aeni
Apa yang dimaksud dengan fitrah Ilahiyah, fitrah belajar, fitrah perkembangan, fitrah seksualitas?
Yang harus kita lakukan dlm mendidik anak adalah mengeksplor potensi anak/fitrah anak dan memaksimalkannya bukan memasukkan sesuatu kepada anak. Bagaimana halnya kita sekarang yg mempercayakan anaknya untuk bersekolah?
➡
Penjelasannya ada pada gambar untuk jawaban no.1 tadi ya teh.
fitrah Ilahiyah sama dengan fitrah keimanan. Fitrah seksualitas sama dengan fitrah gender.
Jangan mempercayakan 100% pendidikan anak pada sekolah, karena dari sekolah mungkin hanya 10-25 % pendidikan anak yang sesuai dengan fitrah, bahkan ada yang mungkin tidak sesuai sama sekali.
catatan : pendidikan berbasis fitrah tidak sama dengan pendidikan Sekolah. pendidikan fitrah/HE itu tetap wajib dilaksanakan oleh setiap orang tua walaupun anaknya sekolah di pendidikan formal. ✅

4. πŸ™‹πŸ» Puji
Akhir-akhir ini makin banyak pilihan anak bersekolah, sekolah negeri formal, sekolah plus islam, sekolah alam dan homeschooling, apakah ketika pemilihan tsb.anak juga diajak berdiskusi untuk memilih sekolah mereka?apakah lewat tes bakat,kepribadian dan sejenisnya bisa menentukan anak kita cocok bersekolah dimana?atau memang pemilihan jenis sekolah adalah sepenuhnya orangtua yg tentukan? ➡ Yup, yang menentukan anak sekolah dimana atau tidak sekolah adalah anaknya sendiri, bukan orang tua. tentukan dulu goalnya (Start from the finish line). Beri wawasan mengenai proses belajar seluas-luasnya pada anak, selanjutnya biarkan anak yang memilih. Toh yang menjadi kewajiban adalah menuntut ilmu sepanjang hayat, terlepas melalui jalur formal atau tidak. ✅

5. πŸ™‹ Rika
Terkait mendidik anak dengan fitrah,kurikulum seperti apa/pembelajaran apa saja  yang harus pertama kali kita terapkan pada anak usia balita 2 & 4 tahun? ➡
untuk anak usia 0-7 tahun pendidikan utama yang harus ditanamkan adalah
Iman, Ahlak, Adab dan Bicara. Referensinya bisa dilihat di berbagai buku-buku prenting, seperti Prophetic Parenting, Tarbiyatul Aulad, Mendidik Anak Cara Rasululloh dan sebagainya. Berikut contoh framework dari buku FBE :

6. πŸ™‹πŸ» Epi
1. Teh kalau blm punya anak bagaimana ya cara mengeksplorasi NHW 4 ini? Lalu Output nya berupa apa dari eksplorasi tsb?
2. Saat blm ada anak di tengah2 saya dan suami, kami juga sering berdiskusi ringan terkait pendidikan anak ke depannya bagaimana. Bagaimana ya teknis agar diskusi ini tercatat dengan baik? Apakah perlu adanya grand design pendidikan anak di keluarga secara khusus "tersurat"? Bagaimana kiat2 utk meningkatkan aktivitas membahas buku bersama suami terkait pendidikan anak, khususnya pendidikan anak berbasis fitrah? ➡
1. NHW akan disesuaikan dengan kondisi peserta, seperti NHW sebelumnya, jangan khawatir. NHWnya kan belum diberikan.
2. Ini sangat bagus teh. Mempersiapkan amunisi pendidikannya sebelum anak lahir. Membekali diri untuk menyambut generasi pembangun peradaban yang akan diamanahkan. Maka, silahkan buat dokumentasi tersurat agar terekam apa yang sudah dan belum terbahas.
Kiatnya, mulai dari sub bahasan yang disukai kedua pihak. Bisa juga diajak dengan jadwal, semisal setiap tanggal pernikahan, kita bahas tentang pendidikan anak yuk Kang/Mas. Dijadwalkan, sebagai momen spesial 😁 ✅

7. πŸ™‹Maesaroh
Bagaimana agar supaya pola asuh kita kepada anak kita fokus berbasis fitrah. Kadang saya suka bingung sendiri, saya sudah tahu k4 fitrah tsb namun ketika dipraktikkan kpda anak malah jdi bngung.he.nuhun ➡ Mengalir saja, berikan stimulus sesuai dengan tahapan usia (bisa digunakan pedoman KPSP, ceklis perkembangan, Denver dsb), lihat prosesnya, jangan paksakan hasil. Tingkatkan frekuensi stimulus pada perkembangan tertentu yang kita nilai terlambat pada anak kita. Konsep fitrah diturunkan menjadi stimulasi teknis. Semisal untuk anak 2 tahun, membangkitkan fitrah keimanan dengan melibatkannya dalam aktivitas ibadah, membacakan kisah terkait Asmaul Husna. Membangkitkan fitrah belajarnya dengan membiasakan berkomunikasi dengan the power of question di setiap dialog, dsb ✅

8. Tsara
a. Teh, gimana caranya kita mengevaluasi diri, apakah kita sdh menggunakan mata hati atau blm untuk melihat perkembangan fitrah anak? Apakah bisa dgn, misal, ketika kita memfasilitasi mereka dgn kegiatan yg kita nilai sudah sesuai dgn fitrah perkembangannya, dia terlihat nyaman dan senang?
b.Teh, bgmn caranya kita menghadirkan lingkungan belajar yang sealamiah mungkin di tengah2 lingkungan masyarakat yg punya demand tertentu dan secara tidak langsung mengendalikan anak2 kita dgn ekspektasi mereka?⁠
➡ a. Indikatornya adalah anak-anak cinta, ridho dan sangat bergairah dengan apa yang sedang dipelajarinya. Setelah itu tahan menghadapi segala tantangan yang dihadapinya  dan bisa mendapatkan solusi terbaik. Karena tidak semua yang dicintai itu harus berjalan indah, kadang ujiannya juga berat. Tapi karena ridho dan sesuai fitrah biasanya anak-anak tahan menghadapinya. Tugas kita para orangtua adalah

"kalau anak-anak panas, jangan buru-buru dikasih antibiotik"

Jadi kalau anak sedang menghadapi ujian hidup jangan buru-buru ditolong, biarkan dulu, siapa tahu  tubuhnya sedang membuat imunitas baru untuk kekebalan menghadapi ujian di bidang tersebut.

b. Jangan mudah tergoda dengan lingkungan luar, yakin dengan kemampuan fitrah kita dan anak-anak⁠⁠⁠⁠

-SPW-
✅

9. πŸ™‹ citra
saya punya ank k 1 laki2 berusia 5 thn, ank saya agresif dan cenderung kasar, blm bs mengontrol kekuatannya, sampai kadang2 saya hanya bisa menangis kalo kk suka bercanda yg bisa membuat ddnya sakit, kk masi blm bs mengontrol emosinya, tp alhamdulillah sekarang sudah lbh berkurang dengan cara saya kasih analogi agar kk bisa lbh mengontrol kekuatannya, yang saya lakukan saya berusaha tenang dulu, kalo mgkn dd merasa sakit sekali, saya g bs marah sama kk saya hanya bisa menangis, dari situ kk lgsg minta maaf k ddnya. Saya tau sikap kk itu terproyeksi dr pola pengasuhan masa lampau, dan sekarang kk jg anknya lbh sensitive. Kk dan dd jaraknya 20 bln terlihat sekali ada kecemburuan, terlebih lg suami saya sikapnya lbh berbeda dgn dd prempuannya, itu yang bikin kk kurang nyaman dekat abinya. Terlebih lagi waktu kk baru ada kk, saya masi kerja d bdg ikut d mertua, suami saya tinggal d Jakarta, jadi banyak yg terduplikasi negatif pada saat itu oleh kk. Untuk  mendidik kk dengan sikap seperti itu  apa yg pertama-tama yang harus saya lakukan?kemudian waktu bln Juli kmrn kk ingin sekolah, karena d rumah jarang ada teman main dan saya jarang bisa ajak kluar bermain. Ternyata saya baru tau kalo d sekolah kk ditekankan calistung, sedangkan saya termasuk yg tidak mau diajarkan calistung, kecuali dgn penyampaian yg menyenangkan sambil bermain, jd mereka tidak sadar kalo mereka bermain sambil blajar, tapi di sekolah itu benar-benar ank2 sudah terbebani calistung dgn metode yg membebani. Untung saya lgsg diskusi dgn gurunya kalo kk tidak mau memperhatikan pelajaran itu tlg dibiarkan, dan saya kasih batasan apa yg boleh dan yg TDK boleh, alhamdulillah dgb berjalannya waktu sudah bisa terlewati, tp terus terang sampai skrg kk masih blm mau lepas dari saya, saya masi menunggu di kelas sedangkan ddnya yg pgn ikut-ikutan sekolah jg di paud sama dgn sekolah kk,dd lebih berani sendiri. Saya jg sering review dan ngobrol pelan2 pada saat keadaan hatinya sedang tenang dan senang, " kk suka g sekolah", suka katanya soalnya ada banyak teman, tapi yg masih suka bikin kk masih suka nangis ad temenya yg sikapnya kurang baik, kk masi suka sensitive, apakah keadaan itu tidak apa-apa buat kk? Bagaimana cara pendekatannya agar kk tidak gampang sensitif atau sedih dengan keadaan itu?⁠⁠⁠⁠ 

➡ Super sekali ya teh Citra... Jujur saya belum pernah mengalami hal yang pernah dialami oleh teh Citra, karena anak saya baru satu. Tips saya, jadilah partner bermain yang menyenangkan bagi kk, buatlah moment-moment yang memorable (quality time). Jadilah teladan yang baik buat anak-anak. Apa yang teh Citra lakukan dengan bernegosiasi dengan pihak sekolah insyaAllah sudah tepat. Mangga barangkali teteh-teteh ada yanh mau menambahkan/punya pengalaman serupa.✅

10. πŸ™‹πŸ» Michelle
Bagaimana cara menanamkan sikap dasar (dari dalam rumah) agar nantinya anak dapat memfilter atau tidak terpengaruh hal- hal negatif dari lingkungan luar? ➡ 4 pilar utama dalam pendidikan adalah Iman, akhlak, adab dan bicara. Iman, akhlak, dan adab itu tidak bisa diajarkan hanya bisa ditularkan, oleh karena itu jadilah teladan. Kalau 4 pilar tersebut sudah tertanam kuat dalam diri anak-anak insyaAllah value keluarga akan terbawa kemanapun dia pergi. Seperti halnya memberi antibodi. Oleh karena itu, dampingi anak sampai usia 12 tahun (pra aqil baligh).
Jika memungkinkan, warnai lingkungan sekitar dengan hal positif yang kita miliki. Mengajak tetangga untuk bekerja sama mendidik anak dengan benar. ✅

11. πŸ™‹πŸ» mira budi
Mohon penjelasan mengenai mengupayakan proses mendidik sealamiah mgkin sesuai sunatullah perkemb.manusia ➡ Tidak pernah menggegas dengan menambahkan berbagai macam hal2 yg tidak alamiah. Seperti petani organik, para petani ini ingin menemani tanaman itu tumbuh sesuai dg kehendakNya. Tidak memaksakan proses shg hasilnya dipaksakan sesuai kehendak kita sang perawat. ✅

12. πŸ™‹πŸ» dewi
Saya merasa,blm tuntas di NHW 3.berulangkali sy renungkan...sptnya apa yg sy tulis di NHW 3 blm mewakili apa yg saya fahami.maka...apakah sy hrs mundur lg di NHW 3 ataukah bisa sambil jln di materi 4 ini.krn mungkin pijakannya ada NHW 3 ➡ menurut kami, NHW merupakan pertanyaan berkelanjutan yang jawabannya bisa jadi mengalami revisi setiap saat. Bisa terus berubah membersamai proses bertumbuh kita. Maka, revisi NHW 3 dan pengerjaan NHW 4 bisa berjalan beriringan. Tapi pilihan kami kembalikan pada peserta. 😊 ✅

13.❓seruni
a. sejak usia berapa bakat anak mulai terlihat atau di usia berapa kita mulai mengamati bakat-bakat alamiah anak?
➡ kemarin sdh dijawab sama teh Elma, kalau kita benar2 peka dan memperhatikan sejak dini, usia 3 tahun sudah mulai terlihat.
b. mulai usia berapa anak bisa diajarkan /dikenalkan dengan pendidikan seks sejak dini? mulai dari perbedaan gender dan pengenalan alat kelamin.
➡Pendidikan seks dikenalkan pada anak secara bertahap, mulai dari mengenalkan perbedaan antara laki2 dan perempuan, perbedaan dalam penampilan (berpakaian), perbedaan anatomi bisa dikenalkan saat anak bisa membedakan kanan dan kiri. ✅
  
14. πŸ™‹ Ulfah
a. "Bersihkan hati nurani.. Gunakan Mata hati..."
Bagaimana kita mengetahui hati nurani kita telah cukup bersih dan Bagaimana kita tahu hati kita telah menunjukkan ke arah yg tepat? Terus melakukan tazkiyatunnafs untuk menjaga kebersihan hati dan nurani. Saat hati kita bersih, tentunya perasaan kita akan tentram, penuh rasa syukur, tenang menghadapi tantangan dalam pengasuhan anak.
cmiiw.
B. Secara teknis, bagaimana menyusun kurikulum pendidikan dengan kekuatan fitrah? Adakah contoh semacam lesson plan nya?
Keterangan ada pada gambar

14. πŸ™‹ Ulfah
a. "Bersihkan hati nurani.. Gunakan Mata hati..."
Bagaimana kita mengetahui hati nurani kita telah cukup bersih dan Bagaimana kita tahu hati kita telah menunjukkan ke arah yg tepat? ➡Terus melakukan tazkiyatunnafs untuk menjaga kebersihan hati dan nurani. Saat hati kita bersih, tentunya perasaan kita akan tentram, penuh rasa syukur, tenang menghadapi tantangan dalam pengasuhan anak.
B. Secara teknis, bagaimana menyusun kurikulum pendidikan dengan kekuatan fitrah? Adakah contoh semacam lesson plan nya?
Akan ada cluenya untuk mengarahkan ✅

15. πŸ™‹ Farah Fatihah 
1. Bagaimana cara mengidentifikasi fitrah seorang anak, mengingat kekurang pekaan diri ini? ➡
Saya jadi teringat pesan bu Septi terkait mendidik anak dengan ilmu. Beliau pernah menyampaikan, "Kita dipercaya sebagai penjaga amanahNya, SEMESTINYA kita menjaganya dengan ilmu. Jadi orangtua yang belajar khusus untuk mendidik anaknya seharusnya hal BIASA, tapi sekarang menjadi hal yang LUAR BIASA karena tidak banyak orangtua yang melakukannya."
Maka, jika kita merasa belum bisa, mari berusahan supaya bisa. Jika merasa belum peka, mari mengasahnya supaya peka. ✅

2. Dalam proses mendampingi anak, dirasa perlu stok sabar yang melimpah.
a. Bagaimana cara agar ketika masa haid melanda, emosi tetap stabil? ➡ ini dulu pernah terbahas saat webinar via wiziq. Intinya, kelola emosi kita jika PMS melanda, pasang strategi supaya anak tidak jadi korban.
b. Bagaimana cara membedakan dan menyikapi anak yang modus? "Misalnya, dia kepingin makan. Dan ketika makanan sudah siap, dia malah g mau. Terus makanannya kita simpen. Tp dia minta lagi, pas sama kita di kasih, dia gak mau lagi"? Mohon pencerahannya ➡ anaknya usia berapa teh? Bisa dengan mengajarkan konsekuensi. Misal, sebelum makan, kita ajak komitmen, "ini ummi siapkan makanan karena kk minta makan kan ya, kalau ngga dimakan, konsekuensinya kalau kk minta makan, ngga ummi kasih lagi ya? Sepakat?" Lalu ajak jabat tangan. Dan lakukan sesuai kesepakatan awal.

Kalau anak terbiasa dengan jadwal makan, kesepakatannya bisa dengan makanan hanya tersedia di jadwal makan tsb. Lepas dari itu, maka tidak ada makanan di meja. Sehingga, kalau kk tidak makan sesuai jadwal, akan lapar dan tetap tidak ada makanan meskipun kk minta.

Kata kunci : bangun kesepakatan di awal dan patuhi. ✅

Materi Matrikulasi Ibu Profesional Sesi #3 MEMBANGUN PERADABAN DARI DALAM RUMAH

 “ Rumah adalah taman dan gerbang peradaban yang mengantarkan anggota keluarganya  menuju peran peradabannya ”

Bunda, rumah kita adalah pondasi sebuah bangunan peradaban, dimana kita berdua bersama suami, diberi amanah sebagai pembangun peradaban melalui pendidikan anak-anak kita. Oleh karena itu sebagai orang yang terpilih dan dipercaya oleh yang Maha Memberi Amanah, sudah selayaknya kita jalankan dengan sungguh-sungguh.

Maka tugas utama kita sebagai pembangun  peradaban adalah mendidik anak-anak sesuai dengan kehendakNya, bukan mencetaknya sesuai keinginan kita.

Sang Maha Pencipta menghadirkan kita di muka bumi ini sudah dilengkapi dengan “ misi spesifiknya ”, tugas kita memahami kehendakNya.

Kemudian ketika kita dipertemukan dengan pasangan hidup kita untuk membentuk sebuah keluarga, tidak hanya sekedar untuk melanjutkan keturunan, atau hanya sekedar untuk menyempurnakan agama kita. Lebih dari itu, kita bertemu dengan suami dan melahirkan anak-anak, adalah untuk lebih memahami apa sebenarnya “ peran spesifik keluarga” kita di muka bumi ini.
Hal ini yang kadang kita lupakan, meski sudah bertahun-tahun menikah.

Darimana kita harus memulainya?

PRA NIKAH
Buat anda yang masih dalam taraf memantaskan diri agar mendapatkan partner membangun peradaban keluarga yang cocok, mulailah dengan tahapan-tahapan ini:

a. Bagaimana proses anda dididik oleh orangtua anda dulu?
b. Adakah yang membuat anda bahagia?
c. Adakah yang membuat anda “sakit hati/dendam’ sampai sekarang?
d. Apabila ada, sanggupkah anda memaafkan kesalahan masa lalu orangtua anda, dan kembali mencintai, menghormati beliau dengan tulus?

Kalau empat pertanyaan itu sudah terjawab dengan baik, maka melajulah ke jenjang pernikahan.
Tanyakan ke calon pasangan anda ke empat hal tersebut, minta dia segera menyelesaikannya.
Karena,
ORANG YANG BELUM SELESAI DENGAN MASA LALUNYA , AKAN MENYISAKAN BANYAK LUKA  KETIKA MENDIDIK ANAKNYA KELAK

NIKAH
Untuk anda yang sudah berkeluarga, ada beberapa panduan untuk memulai membangun peradaban bersama suami anda dengan langkah-langkah sbb:

  • Pertama temukan potensi unik kita dan suami, coba ingat-ingat mengapa dulu anda memilih “dia” menjadi suami anda? Apa yang membuat anda jatuh cinta padanya? Dan apakah sampai hari ini anda masih bangga terhadap suami anda?
  • Kedua, lihat diri kita, apa keunikan positif yang kita miliki? Mengapa Allah menciptakan kita di muka bumi ini? Sampai kita berjodoh dengan laki-laki yang sekarang menjadi suami kita? Apa pesan rahasia Allah terhadap diri kita di muka bumi ini?
  • Ketiga, lihat anak-anak kita, mereka anak-anak luar biasa. Mengapa rahim kita yang dipilih untuk tempat bertumbuhnya janin anak-anak hebat yang sekarang ada bersama kita? Mengapa kita yang dipercaya untuk menerima amanah anak-anak ini? Punya misi spesifik apa Allah kepada keluarga kita, sehingga menghadirkan anak-anak ini di dalam rumah kita?
  • Keempat, lihat lingkungan dimana kita hidup saat ini. Mengapa kita bisa bertahan hidup dengan kondisi alam dimana tempat kita tinggal saat ini? Mengapa Allah menempatkan keluarga kita disini? Mengapa keluarga kita didekatkan dengan komunitas-komunitas yang berada di sekeliling kita saat ini?

Empat pertanyaan di atas, apabila terjawab akan membuat anda dan suami memiliki “ _misi pernikahan_” sehingga membuat kita layak mempertahankan keberadaan keluarga kita di muka bumi ini.

ORANGTUA TUNGGAL (SINGLE PARENT)
Buat anda yang saat ini membesarkan anak anda sendirian, ada pertanyaan tambahan yang perlu anda jawab selain ke empat hal tersebut di atas.

a.   Apakah proses berpisahnya anda dengan bapaknya anak-anak menyisakan luka?
b.   Kalau ada luka, sanggupkah anda memaafkannya?
c.   Apabila yang ada hanya kenangan bahagia, sanggupkah anda mentransfer energi tersebut menjadi energi positif yang bisa menjadi kekuatan anda mendidik anak-anak tanpa kehadiran ayahnya?

Setelah ketiga pertanyaan tambahan  di atas terjawab dengan baik, segeralah berkolaborasi dengan komunitas pendidikan yang satu chemistry dengan pola pendidikan anda dan anak-anak.
Karena,

IT TAKES A VILLAGE TO RAISE A CHILD
Perlu orang satu kampung untuk mendidik satu orang anak


Berawal dari memahami peran spesifik keluarga kita dalam membangun peradaban, kita akan makin paham apa  potensi unik produktif keluarga kita, sehingga kita bisa senantiasa berjalan di jalanNya.
Karena
Orang yang sudah berjalan di jalanNya, peluanglah yang akan datang menghampiri kita, bukan justru sebaliknya, kita yang terus menerus mengejar uang dan peluang

Tahap berikutnya nanti kita akan makin paham program dan kurikulum pendidikan semacam apa yang paling cocok untuk anak-anak kita, diselaraskan dengan bakat tiap anak, potensi unik alam sekitar, kearifan lokal dan potensi komunitas di sekitar kita.

Kelak, anda akan membuktikan bahwa antara pekerjaan, berkarya dan mendidik anak, bukanlah sesuatu yang terpisahkan, sehingga harus ada yang dikorbankan

Semuanya akan berjalan beriring selaras dengan harmoni irama kehidupan.

Salam Ibu Profesional,

/Tim Matrikulasi IIP/


SUMBER BACAAN
Agus Rifai, Konsep,Sejarah dan Kontribusi keluarga dalam Membangun Peradaban, Jogjakarta, 2013
Harry Santosa dkk, Fitrah Based Education, Jakarta, 2016
Muhammad Husnil, Melunasi Janji Kemerdekaan, Jakarta, 2015
Kumpulan artikel, Membangun Peradaban, E-book, tanggal akses 24 Oktober 2016


SESI TANYA JAWAB :

1. Teh, saya belum menikah dan mau bertanya bagaimana caranya memperbaiki komunikasi dengan orangtua terutama ibu? Dari kecil sampai sma sampai dengan lulus kuliah saya dekat sekali dengan ibu. Namun ketika saya melanjutkan kuliah komunikasi ibu dan saya mulai tidak baik. Saya sudah meminta restu untuk kuliah jadi rasanya ketika ibu marah marah ga jelas itu bukan karena saya melanjutkan studi. Seringkali ketika diskusi seputar masa depan seperti pernikahan dan pekerjaan beda pendapat, saya sudah berusaha untuk menyampaikannya sebaik mungkin tapi seringkali ibu merasa di serang oleh saya atau merasa tidak dihargai oleh saya padahal saya sudah menyampaikan dengan baik baik supaya tidak menyinggung perasaannya. Hal ini menyebabkan saya lebih sering menyendiri karena setiap berusaha meluangkan quality time itu berujung dengan keributan. Indah harus bagaimana ya teh? Jalan bareng udah, ngobrol santai udah tapi cuman bertahan sehari dua hari. Bagaimana ya cara memperbaiki komunikasi dengan orangtua?

*kondisi ibu sudah berusia 60thn
➡ Bismillah....
Maksud teh Indah lanjut S2?
Trus ibunya teh Indah tdk setuju kalau teh Indah lanjut kuliah?

Sebagai orang tua, apalagi sudah sepuh, biasanya mereka akan lebih senang didengarkan cerita2nya...
Jadi saat ngobrol santai, coba teh Indah belajar mendengarkan apa yang ibu teh Indah sampaikan, hanya mendengarkan, dan apresiasi...
Andaikata ada sesuatu yang tidak disetujui, terima saja (acceptance). Katakan dalam hati "ya, saya terima pernyataan ibu, dan saya juga terima kalau saya tidak setuju dengan pernyataan ibu."

Coba untuk beberapa kali saat ngobrol sama ibu... kemudian amati apa yang terjadi dengan hubungan komunikasi teh Indah dengan ibu.
Tataplah ibu teh indah seperti baru pertama kali bertemu, lihatlah segala kebaikannya, lihatlah beliau yang telah berjuang mengandung, melahirkan, membesarkan, mendidik teh Indah dengan susah payah...

Strategi lain, jika memungkinkan, coba gali info dari pihak lain yang terdekat dengan ibu. Mungkin ayah atau kakak/adik dari teh Indah bisa membantu memberikan jawaban, apa yang sebenarnya ibu harapkan dari teh Indah. Bisa jadi diperlukan mediator untuk menjembatani komunikasi dengan ibu ✅

2.
1. Bagaimana cara memperbaiki perlakuan orang tua yg kurang baik? InsyaAllah fase memaafkan sudah dilewati. Namun hal ini baru disadari setelah menikah dan setelah memiliki anak. Harapannya perlakuan tsb tidak terulang pada adik. Contoh perlakuan kurang baik: menjelekkan anak di depan orang lain, membandingkan prestasi/pekerjaan anak dengan org lain, mengatakan bahwa anak tsb tidak akan bisa mencapai yg ia inginkan dst.
➡
Subhanallah... Alhamdulillah klo teh Aul sudah melewati fase memaafkan, karena itu suatu proses yang tidak mudah bagi seseorang.

Teteh yang baik, Bagaimanapun, kita tidak bisa mengubah orang lain, apalagi orang tua.
Menyadarkan diri sendiri saja butuh proses, apalagi menyadarkan orang lain.
Yang mungkin bisa teh Aul lakukan adalah memberi pengertian kepada adik teh Aul untuk bisa menerima dan memaafkan sikap buruk orang tua tersebut. Dan menularkan proses memaafkan yg sudah dilewati oleh teh Aul. Walaupun mungkin proses yang akan dilewati oleh adik teh aul akan berbeda. Paling tidak teh Aul sudah memberikan perhatian yang lebih yang mungkin sangat dibutuhkan oleh adik teh Aul. ✅
Terkait pertanyaan teh Indah dan teh Aul, berikut ada pertanyaan yang serupa. Tekniknya mungkin bisa diadaptasi.

"kita hrs menyelesaikan masa lalu kita", mungkin ini yg dimaksud dg inner child, istilah yg saya dapatkan ketika membaca ulasan seorang psikolog, ibu Elly Risman.
sebenarnya saya masih kurang paham, apa sih inner child itu? hal spt apa yg dikatakan bahwa kita harus menyelesaikannya? lalu menyelesaikan dg cara yg bgmn?

mohon pencerahannya ya mbak Farda dan mbak Dyah. terima kasih ☺

Benar mb Juwi, innerchild itu sisi terdalam diri kita. Sisi ke"Aku" an yg dulu tumbuh diawal2 masa awal kehiduoan penuh dg keegoan yg selalu minta dipuaskan. Cara berdamainya, salah satunya sering2lah menjeda diri dari rutinitas, berbicara kpd diri sendiri (self talk), jika tidak bisa bs gunakan metode terapi "kursi kosong" umpamakan ada sosok orang/sitausi yg tdk nyaman untuk diajak bicara. Jika sosok/kejadian tsb adlh ibu kita maka bayangkan kita bicara pd ibu seolah2 sosok itu hadir dan mendengarkan apapun dr hati kita. Kita coba dengarkan apa isi terdalam hati kita, keluarkan semua lalu closing dg pernyataan memaafkannya. Yakinlah ortu kita pasti pd posisi yg selalu ingin yg terbaik untuk anaknya, walau cara dan situasinya membuat mereka kdg bersikap atau memilih sikap yg membuat kita tdk nyaman. ✅

Sejak umur berapa anak mulai terlihat potensi / bakat uniknya,dan bagaimana ciri anak mempunyai bakat tersebut?
Bagaimana sikap kita sebagai ibu dalam mengarahkan potensi/ bakat anak?
Terimakasih
➡
Teh Michelle... bagi orang yang sudah mendalami bakat dan potensi, mungkin bisa mengamati bakat dan potensi unik anak sejak lahir.
Mengamati bakat dan potensi unik seorang anak diperlukan observasi setiap hari. Kuncinya adalah berikan stimulus sesuai dengan usia dan perkembangan anak.
Untuk ciri-ciri bakat tertentu, saat ini banyak sekali tools dan referensi yang bisa dipakai untuk menggali potensi unik anak-anak kita. Silahkan dipilih mana yang paling cocok.
Pesan : jangan pernah ingin "mengarahkan" bakat anak sesuai dengan mimpi kita. Tapi menggali keunikan anak-anak kita itu yang paling tepat. Karena setiap anak sudah diberikan softwarenya masing-masing oleh Allah. Kita tinggal menginstall dan mengembangkannya. ✅
Bgmn cara mempertahankan misi parenting kami  agar tetap stabil, misalnya lbh mementingkan pend. karakter dan akhlak..serta cara membesarkan hati anak..ketika di lingkungan sekolahnya lbh mengapresiasi pada kemampuan2 otak kanan..misal calistung.
➡
Keren sekali misi parentingnya teh Stephanie...
Langkah pertama yang bisa kita lakukan adalah bertanya pada anak apakah merasa nyaman dengan sekolahnya?
Klo merasa nyaman, lanjutkan sekolahnya...
Untuk pendidikan karakter dan akhlak, kitalah orang tua yang wajib memberikannya kepada anak-anak kita. Atau saya lebih senang dengan mendiskusikannya bersama dengan anak kegiatan apa yang disukai yang bisa dilakukan di luar jam sekolah. Tetap dampingi sampai anak usia 12 tahun.

Yang tak kalah penting adalah komunikasikan misi pendidikan kita dengan pihak sekolah. Keselarasan antara misi keluarga dengan sekolah, perlu menjadi tolok ukur kita dalam menemukan sekolah yang sesuai untuk anak. Sehingga tercipta kerjasama yang sinergis, bukan menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak pada sekolah. ✅

Saya sudah mencoba menjawab semua pertanyaan yg ada di materi. Ketika sampai di pertanyaan "adakah yang membuat anda bahagia?" saya berfikir keras u/menjawab ini karena semua jawaban tetap tidak ada yang lebih dominan dibanding banyaknya jawaban dari pertanyaan iniπŸ‘‰πŸ»πŸ‘‰πŸ»"adakah rasa sakit hati/dendam sampai sekarang? "
Saya tersadar kembali bahwa saya belum sepenuhnya berdamai dengan masa lalu. Sakitnya tak kunjung hilang (sya fikir sudah hilang...naudzubillah 😭😭)
Pertanyaannya:
Apa yang harus saya lakukan untuk berdamai dengan masa lalu ini??mulut saya memafkan,hati senantiasa beristigfar, dan senantiasa berdoa yg terbaik.tapi masih membekas ☹ (maaf kepanjangan materinya jleb pisan 😁)
➡

Ini jawaban teh Ai :
Seperti kayu yang ditusuk paku, walaupun pakunya sdh diangkat, tapi lubangnya tetap ada ya teh mutia?
Tapi klo pakunya ditusukkan ke air, ada bekasnya ga?

Jadi tergantung apakah hati kita terbuat dari paku atau dari air ? He... mikir lagi deh...

Sejujurnya, saya juga belum benar-benar sembuh dari trauma pengasuhan masa lalu (karena bukan hanya trauma masa kecil, tapi juga trauma beberapa waktu yang lalu). Penyembuhan ini memang butuh proses, kesungguhan, latihan yang tepat dan didampingi oleh ahlinya.

Ada beberapa proses yang bisa kita lakukan, diantaranya :
1. belajar menerima (ikhlas) bahwa kita pernah terluka dan sakit hati.
2. Belajar memaafkan kesalahan diri sendiri dan kesalahan orang lain.
3. Belajar menyayangi diri sendiri dan orang lain.
4. Belajar melepaskan harapan-harapan terhadap diri sendiri dan orang lain. ✅
Teh Mesa, kalau mau lihat sumber bacaan dari tulisan di atas, saya sebaiknya menghubungi siapa ya ? Terutama yg kumpulan artikel membangun peradaban.
Nuhun Teh 😊 ➡

Materi disusun oleh bu Septi n tim, teh. Untuk kumpulan artikel, info dari bu Septi, merupakan ebook berbayar. ✅
Saya & suami menikah bulan Januari 2014, Alhamdulillah sudah dikaruniai seorang anak laki2 yg kini usianya 2 tahun & calon adik yg masih dlm rahim.
Saya kesulitan menjawab, potensi unik apa yg dimiliki saya & suami? Kami merasa belum menemukan potensi yg bisa membuat sesuatu yg khas & bermanfaat. Kami merasa ada bagian pola asuh kami yg terlewat di masa lalu, kami tdk mengenali passion kami, ikigai kami. Kami hanya berikhtiar utk jadi "orang baik" tapi belum menemukan "peran spesifik" kami. Bagaimana kah kami bisa menemukan itu? Apakah mengikuti berbagai tes psikologi, seperti talents mapping, sidik jari, dll bisa memberikan manfaat yg signifikan dlm hal ini?

Hatur nuhun. Maaf kepanjangan πŸ™πŸ˜Š
➡
Teh Ulfah merasa bingung ya...
Sama, saya juga dulu juga merasa bingung. Tidak apa2, namanya juga proses.
Saran saya ngobrol terus sama suami. Tentang kelebihan masing2, alasan kenapa dulu merasa saling tertarik antara satu dengan yang lain, nostalgia gitu.... klo lagi ngobrol dulu seringnya ngobrol tentang apa? Tentang rencana masa depan mau seperti apa? Sampai nanti ditemukan 'AHA' momentnya...

Oh, berarti ini ya, yang menjadi sisi unik keluarga kita...😁

Dan tentu saja, Talents Mapping sangat membantu untuk menemukan bakat dominan dari masing2 pasangan, sehingga bisa berbagi peran masing2 dalam membentuk home team.

Dengan sering ngobrol, kita dan suami makin klik. Menyamakan Frame of Reference dan Frame of Experience. ✅
1.bagaimana cara menemukan potensi unik dan keunikan positif kita dgn pasangan?
2."kelak anda akan membuktikan bahwa antara pekerjaan, berkarya&mendidik anak bukanlah sesuatu yg terpisahkan sehingga harus ada yg dikorbankan"saya merasa ditegur keras dgn kutipan itu krn mendidik anak msh mnjadi sampingan bhkn dikorbankan stlh karir(pekerjaan)ttpi untuk menjadi fulltime mom krn bbrp hal msh blm bs terlaksana, apa yg sebaiknya saya lakukan spy bs sinkron sperti itu?
➡
Pertanyaan teh Tini dan teh Ulfah sama ya...
Jadi jawabannya kurang lebih seperti itu, ngobrol dengan pasangan, ngobrol dengan diri sendiri...
Bisa dengan menjawab pertanyaan, sewaktu saya masih kecil permainan apa yang paling sering saya lakukan dan saya sukai, biasanya ada hubungannya dengan potensi unik diri kita.

2. Seorang ibu yang bekerja di ranah publik dan domestik sekaligus memerlukan energi yang dobel juga. Kalau kita tampil cantik di tempat kerja, kita juga harus lebih cantik saat bersama anak, kalau kita bersemangat di tempat kerja tentunya bersama anak harus lebih bersemangat. Siapkan amunisi saat akan meninggalkan anak seperti hari ini anak akan makan apa, menu mainnya apa...
Jika memang harus menitipkan anak kita kepada orang lain (orang tua/asisten) pastikan mereka adalah orang yang mau belajar. Jelaskan bagaimana seharusnya mereka saat bersama anak kita. Berikan kepercayaan. Dan jangan lupa untuk tetap menitipkannya pada Sang Maha Menjaga. ✅
1. Saya masih ingat kenapa dulu saya memilih suami saya, tapi ternyata justru alasan itu yang membuat saya saat ini seakan merasa tersaingi. Gimana cara menerimanya dan mengembalikan alasan itu untuk menjadikan saya semakin jatuh cinta pada suami?

2. Saya dididik oleh orangtua yg sangat perhatian bahkan bisa dibilang "over", sedangkan suami dididik oleh keluarga yg terkesan "cuek". Saat awal2 menikah, saya sempat membandingkan perhatian kedua orang tua kami (sempat saya sampaikan ke suami saat emosi tak terkendali), terutama setelah anak pertama lahir.
Sampai saat ini pun kadang masih saya lakukan, walaupun hanya dalam hati. Gimana ya Teh cara menghilangkannya?

Haturnuhun teteh-teteh fasilitator 😘
➡
Teh Irna yang solehah, kami kurang faham dengan maksud merasa tersaingi.
Tapi dari cerita teh Irna, mungkin teh Irna masih menyimpan luka masa lalu (trauma), belum selesai dengan diri sendiri.
Oleh karena itu di pertanyaan kedua teh Irna menggambarkan kondisi auto pilot parenting (doing mode)
Mungkin pelatihan mindfulness bisa membantu mengatasi tantangan yang teh Irna hadapi saat ini. ✅

Nice Homework #7 TAHAPAN MENUJU BUNDA PRODUKTIF

Sumber gambar : path @atincn

Alhamdulillah sudah sampai ke NHW #7 πŸ˜„πŸ˜„
Tapiii.. walau sudah sampai di NHW #7 tetap saja saya merasa masih harus merevisi NHW - NHW saya sebelumnya karena dalam proses mengikuti kelas matrikulasi ini saya menemukan hal - hal baru terutama mengenai diri saya yang perlu saya cari tahu dan gali lebih dalam terutama mengenai passion saya.

Intruksi NHW kali ini adalah mengisi tes di temubakat.com (ST30) dan mengkonfirmasi hasilnya dengan diri sendiri apakah sesuai, apakah gue banget, apakah sudah sama /berhubungan dengan apa yang ditulis di NHW 1 s/d NHW 6 ?
Dan saya pribadi sebelumnya sudah mengikuti workshop talent Mapping nya abah Rama, jadi setiap mengerjakan NHW dari 1 s/d 6 saya selalu merujuk pada panduan hasil assesmen Talent Mapping sebagai panduan karena apa yang keluar di hasil TM memang saya banget.

Meski begitu, jujur saya belum benar-benar ngeuh dan sreg dengan peran hidup apa yang ingin saya jalankan. Saya masih mempelajari dan mencari tahu lebih banyak tentang minat dan bakat saya, jadi walaupun di NHW #4 saya sudah menuliskan peran, bidang, dan misi hidup saya tapi sepertinya hal tersebut masih akan saya revisi 😁

Saya sudah mengisi tes di temubakat.com dan sudah mendapat hasil ST30 (Strength Typology) yang ternyata peran yang muncul sebagai kekuatan saya di ST30 berbeda sekali dengan hasil dari ST di assesmen Talent Mapping πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ nah bingung kan??
Sebelum saya lampirkan hasil ST30 dan ST dari assesmen TM, saya akan bahas sedikit tentang apa itu ST30?

ST30 Merupakan gambaran kompetensi dan minat terhadap peran. Memiliki sekitar 30 tipologi manusia yang terkait dengan kekuatan yang produktif. Sebagai personal brand atau self-awareness bagi seseorang.
Tes ST30 bisa menjadi salah satu tools atau salah satu cara menemukan Potensi Diri kita agar kita dapat dengan mudah mengetahui secara langsung akan potensi bakat dan kekuatan kita yang sesungguhnya.

Berikut hasil ST30 saya 

Berikut hasil strength typology dari assesmen Talent Mapping

Dari kedua hasil tersebut, saya belum dapat membuat kesimpulan karena masih mencari benang merahnya. Namun berdasarkan apa yang saya rasakan, memang sesuai 😁😁

Setelah mengetahui tipe kekuatan diri, saya juga sudah mengisi kuadran aktivitas sebagai berikut :

Demikian NHW #7 ini saya buat sebagai tahapan menuju bunda produktif. Semoga dengan ini saya semakin mengenal diri sendiri, mengetahui kekuatan dan kelemahan, serta dapat mengasah diri dibagian yang tepat sehingga kita dapat memasuki ranah produktif dengan Bahagia.aamiin, insyaallah
Wassalamu'alaikum wr.wb


/Atin CN/