Tampilkan postingan dengan label Komunikasi Produktif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Komunikasi Produktif. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 Maret 2017

Materi Sesi #1 Kuliah Bunda Sayang - KOMUNIKASI PRODUKTIF

🏑 Kelas Bunda Sayang Bandung #2
Pemandu Diskusi :
🎀 Diyah Amalia
πŸ“ Sri Wahyuni Kusumawardhani

Institut Ibu Profesional
Materi Kelas Bunda Sayang sesi #1

KOMUNIKASI PRODUKTIF

Selisih paham sering kali muncul bukan karena isi percakapan melainkan dari cara penyampaiannya. Maka di tahap awal ini penting bagi kita untuk belajar cara berkomunikasi yang produktif,  agar tidak mengganggu hal penting yang ingin kita sampaikan,  baik kepada diri sendiri,  kepada pasangan hidup kita dan anak-anak kita.

KOMUNIKASI DENGAN DIRI SENDIRI

Tantangan terbesar dalam komunikasi adalah mengubah pola komunikasi diri kita sendiri. Karena mungkin selama ini kita tidak menyadarinya bahwa komunikasi diri kita termasuk ranah komunikasi yang tidak produktif.

Kita mulai dari pemilihan kata yang kita gunakan sehari-hari.

Kosakata kita adalah output dari struktur berpikir  dan cara kita berpikir

Ketika kita selalu berpikir positif maka kata-kata yang keluar dari mulut kita juga kata-kata positif, demikian juga sebaliknya.

Kata-kata anda itu membawa energi, maka pilihlah kata-kata anda

Kata  masalah gantilah dengan tantangan

Kata Susah gantilah dengan Menarik

Kata Aku tidak tahu gantilah Ayo kita cari tahu

Ketika kita berbicara “masalah” kedua ujung bibir kita turun, bahu tertunduk, maka kita akan merasa semakin berat dan tidak bisa melihat solusi.


Tapi jika kita mengubahnya dengan “TANTANGAN”, kedua ujung bibir kita tertarik, bahu tegap, maka nalar kita akan bekerja mencari solusi.


Pemilihan diksi (Kosa kata) adalah pencerminan diri kita yang sesungguhnya


Pemilihan kata akan memberikan efek yang berbeda terhadap kinerja otak. Maka kita perlu berhati-hati dalam memilih kata supaya hidup lebih berenergi dan lebih bermakna.


Jika diri kita masih sering berpikiran negatif, maka kemungkinan diksi (pilihan kata) kita juga kata-kata negatif, demikian juga sebaliknya.


KOMUNIKASI DENGAN PASANGAN
Ketika berkomunikasi dengan orang dewasa lain, maka awali dengan kesadaran bahwa “aku dan kamu” adalah 2 individu yang berbeda dan terima hal itu.


Pasangan kita dilahirkaan oleh ayah ibu yang berbeda dengan kita, tumbuh dan berkembang pada lingkungan yang berbeda, belajar pada kelas yang berbeda, mengalami hal-hal yang berbeda dan banyak lagi hal lainnya.


Maka sangat boleh jadi pasangan kita memiliki Frame of Reference (FoR) dan Frame of Experience (FoE) yang berbeda dengan kita.


FoR adalah cara pandang, keyakinan, konsep dan tatanilai yang dianut seseorang. Bisa berasal dari pendidikan ortu, bukubacaan, pergaulan, indoktrinasi dll.


FoE adalah serangkaian kejadian yang dialami seseorang, yang dapat membangun emosi dan sikap mental seseorang.


FoE dan FoR mempengaruhi persepsi seseorang terhadap suatu pesan/informasi yang datang kepadanya.


Jadi jika pasangan memiliki pendapat dan pandangan yang berbeda atas sesuatu, ya tidak apa-apa, karena FoE dan FoR nya memang berbeda.


Komunikasi dilakukan untuk MEMBAGIKAN yang kutahu kepadamu, sudut pandangku agar kau mengerti, dan demikian pula SEBALIKnya.


Komunikasi yang baik akan membentuk FoE/FoR ku dan FoE/FoR mu ==> FoE/FoR KITA


Sehingga ketika datang informasi akan dipahami secara sama antara kita dan pasangan kita, ketika kita menyampaikan sesuatu,  pasangan akan menerima pesan kita itu seperti yang kita inginkan.


Komunikasi menjadi bermasalah ketika menjadi MEMAKSAKAN pendapatku kepadamu, harus kau pakai sudut pandangku dan singkirkan sudut pandangmu.


Pada diri seseorang ada komponen NALAR dan EMOSI; bila Nalar panjang - Emosi kecil; bila Nalar pendek - Emosi tinggi


Komunikasi antara 2 orang dewasa berpijak pada Nalar.
Komunikasi yang sarat dengan aspek emosi terjadi pada anak-anak atau orang yang sudah tua.


Maka bila Anda dan pasangan masih masuk kategori Dewasa --sudah bukan anak-anak dan belum tua sekali-- maka selayaknya mengedepankan Nalar daripada emosi, dasarkan pada fakta/data dan untuk problem solving.


Bila Emosi anda dan pasangan sedang tinggi, jeda sejenak, redakan dulu ==> agar Nalar anda dan pasangan bisa berfungsi kembali dengan baik.


Ketika Emosi berada di puncak amarah (artinya Nalar berada di titik terendahnya) sesungguhnya TIDAK ADA komunikasi disana, tidak ada sesuatu yang dibagikan; yang ada hanya suara yang bersahut-sahutan, saling tindih berebut benar.


Ada beberapa kaidah yang dapat membantu meningkatkan efektivitas dan produktivitas komunikasi Anda dan pasangan:


1. Kaidah 2C: Clear and Clarify

Susunlah pesan yang ingin Anda sampaikan dengan kalimat yang jelas (clear) sehingga mudah dipahami pasangan. Gunakan bahasa yang baik dan nyaman bagi kedua belah pihak.


Berikan kesempatan kepada pasangan untuk bertanya, mengklarifikasi (clarify) bila ada hal-hal yang tidak dipahaminya.


2. Choose the Right Time

Pilihlah waktu dan suasana yang nyaman untuk menyampaikan pesan. Anda yang paling tahu tentang hal ini. Meski demikian tidak ada salahnya bertanya kepada pasangan waktu yang nyaman baginya berkomunikasi dengan anda, suasana yang diinginkannya, dll.


3. Kaidah 7-38-55

Albert Mehrabian menyampaikan bahwa pada komunikasi yang terkait dengan perasaan dan sikap (feeling and attitude) aspek verbal (kata-kata) itu hanya 7% memberikan dampak pada hasil komunikasi.


Komponen yang lebih besar mempengaruhi hasil komunikasi adalah intonasi suara (38%) dan bahasa tubuh (55%).

Anda tentu sudah paham mengenai hal ini. Bila pasangan anda mengatakan "Aku jujur. Sumpah berani mati!" namun matanya kesana-kemari tak berani menatap Anda, nada bicaranya mengambang maka pesan apa yang Anda tangkap? Kata-kata atau bahasa tubuh dan intonasi yang lebih Anda percayai?

Nah, demikian pula pasangan dalam menilai pesan yang Anda sampaikan, mereka akan menilai kesesuaian kata-kata, intonasi dan bahasa tubuh Anda.

4. Intensity of Eye Contact

Pepatah mengatakan mata adalah jendela hati


Pada saat berkomunikasi tataplah mata pasangan dengan lembut, itu akan memberikan kesan bahwa Anda terbuka, jujur, tak ada yang ditutupi. Disisi lain, dengan menatap matanya Anda juga dapat mengetahui apakah pasangan jujur, mengatakan apa adanya dan tak menutupi sesuatu apapun.


5. Kaidah: I'm responsible for my communication results

Hasil dari komunikasi adalah tanggung jawab komunikator, si pemberi pesan.

Jika si penerima pesan tidak paham atau salah memahami, jangan salahkan ia, cari cara yang lain dan gunakan bahasa yang dipahaminya.


Perhatikan senantiasa responnya dari waktu ke waktu agar Anda dapat segera mengubah strategi dan cara komunikasi bilamana diperlukan. Keterlambatan memahami respon dapat berakibat timbulnya rasa jengkel pada salah satu pihak atau bahkan keduanya.


KOMUNIKASI DENGAN ANAK

Anak –anak itu memiliki gaya komunikasi yang unik.

Mungkin mereka tidak memahami perkataan kita, tetapi mereka tidak pernah salah meng copy


Sehingga gaya komunikasi anak-anak kita itu bisa menjadi cerminan gaya komunikasi orangtuanya.

Maka kitalah yang harus belajar gaya komunikasi yang produktif dan efektif. Bukan kita yang memaksa anak-anak untuk memahami gaya komunikasi orangtuanya.

Kita pernah menjadi anak-anak, tetapi anak-anak belum pernah menjadi orangtua, sehingga sudah sangat wajar kalau kita yang harus memahami mereka.

Bagaimana Caranya ?

a. Keep Information Short & Simple (KISS)

Gunakan kalimat tunggal, bukan kalimat majemuk

⛔Kalimat tidak produktif :
“Nak, tolong setelah mandi handuknya langsung dijemur kemudian taruh baju kotor di mesin cuci ya, sisirlah rambutmu, dan jangan lupa rapikan tempat tidurmu.


✅Kalimat Produktif :
“Nak, setelah mandi handuknya langsung dijemur ya”  ( biarkan aktivitas ini selesai dilakukan anak, baru anda berikan informasi yang lain)

b. Kendalikan intonasi suara dan gunakan suara ramah

Masih ingat dengan rumus 7-38-55 ? selama ini kita sering menggunakan suara saja ketika berbicara ke anak, yang ternyata hanya 7% mempengaruhi keberhasilan komunikasi kita ke anak. 38% dipengaruhi intonasi suara dan 55% dipengaruhi bahasa tubuh

⛔Kalimat tidak produktif:
“Ambilkan buku itu !” ( tanpa senyum, tanpa menatap wajahnya)

✅Kalimat Produktif :
“Nak, tolong ambilkan buku itu ya” (suara lembut , tersenyum, menatap wajahnya)

Hasil perintah pada poin 1 dengan 2 akan berbeda. Pada poin 1, anak akan mengambilkan buku dengan cemberut. Sedangkan poin 2, anak akan mengambilkan buku senang hati.

c.  Katakan apa yang kita inginkan, bukan yang tidak kita inginkan

⛔Kalimat tidak produktif :
“Nak, Ibu tidak ingin kamu ngegame terus sampai lupa sholat, lupa belajar !”

✅Kalimat produktif :
“Nak, Ibu ingin kamu sholat tepat waktu dan rajin belajar”

d.  Fokus ke depan, bukan masa lalu

⛔Kalimat tidak produktif :
“Nilai matematikamu jelek sekali,Cuma dapat 6! Itu kan gara-gara kamu ngegame terus,sampai lupa waktu,lupa belajar, lupa PR. Ibu juga bilang apa. Makanya nurut sama Ibu biar nilai tidak jeblok. Kamu sih nggak mau belajar sungguh-sungguh, Ibu jengkel!”

✅Kalimat produktif :
“Ibu lihat nilai rapotmu, hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan, ada yang bisa ibu bantu? Sehingga kamu bisa mengubah strategi belajar menjadi lebih baik lagi”

e. Ganti kata ‘TIDAK BISA” menjadi “BISA”

Otak kita akan bekerja seseai kosa kata. Jika kita mengatakan “tidak bisa” maka otak akan bekerja mengumpulkan data-data pendukung faktor ketidakbisaan tersebut. Setelah semua data faktor penyebab ketidakbisaan kita terkumpul , maka kita malas mengerjakan hal tersebut yang pada akhirnya menyebabkan ketidakbisaan sesungguhnya. Begitu pula dengan kata “BISA” akan membukakan jalan otak untuk mencari faktor-faktor penyebab bisa tersebut, pada akhirnya kita BISA menjalankannya.

f. Fokus pada solusi bukan pada masalah

⛔Kalimat tidak produktif :
“Kamu itu memang tidak pernah hati-hati, sudah berulangkali ibu ingatkan, kembalikan mainan pada tempatnya, tidak juga dikembalikan, sekarang hilang lagi kan, rasain sendiri!”

✅Kalimat produktif:
“ Ibu sudah ingatkan cara mengembalikan mainan pada tempatnya, sekarang kita belajar memasukkan setiap kategori mainan dalam satu tempat. Kamu boleh ambil mainan di kotak lain, dengan syarat masukkan mainan sebelumnya pada kotaknya terlebih dahulu”.


g. Jelas dalam memberikan pujian dan kritikan

Berikanlah pujian dan kritikan dengan menyebutkan perbuatan/sikap apa saja yang perlu dipuji dan yang perlu dikritik. Bukan hanya sekedar memberikan kata pujian dan asal kritik saja. Sehingga kita mengkritik sikap/perbuatannya bukan mengkritik pribadi anak tersebut.

⛔Pujian/Kritikan tidak produktif:

“Waah anak hebat, keren banget sih”
“Aduuh, nyebelin banget sih kamu”

✅Pujian/Kritikan produktif:
“Mas, caramu menyambut tamu Bapak/Ibu tadi pagi keren banget, sangat beradab, terima kasih ya nak”

“Kak, bahasa tubuhmu saat kita berbincang-bincang dengan tamu Bapak/Ibu tadi sungguh sangat mengganggu, bisakah kamu perbaiki lagi?”

h. Gantilah nasihat menjadi refleksi pengalaman

⛔Kalimat Tidak Produktif:
“Makanya jadi anak jangan malas, malam saat mau tidur, siapkan apa yang harus kamu bawa, sehingga pagi tinggal berangkat”

✅Kalimat Produktif:
“Ibu dulu pernah merasakan tertinggal barang yang sangat penting seperti kamu saat ini, rasanya sedih dan kecewa banget, makanya ibu selalu mempersiapkan segala sesuatunya di malam hari menjelang tidur.

I. Gantilah kalimat interogasi dengan pernyataan observasi

⛔Kalimat tidak produktif :
“Belajar apa hari ini di sekolah? Main apa saja tadi di sekolah?

✅Kalimat produktif :
“ Ibu lihat matamu berbinar sekali hari ini,sepertinya  bahagia sekali di sekolah,  boleh berbagi kebahagiaan dengan ibu?”

j. Ganti kalimat yang Menolak/Mengalihkan perasaan dengan kalimat yang menunjukkan empati

⛔Kalimat tidak produktif :
"Masa sih cuma jalan segitu aja capek?"

✅kalimat produktif :
kakak capek ya? Apa yang paling membuatmu lelah dari perjalanan kita hari ini?

k. Ganti perintah dengan pilihan

⛔kalimat tidak produktif :
“ Mandi sekarang ya kak!”

✅Kalimat produktif :
“Kak 30 menit  lagi kita akan berangkat, mau melanjutkan main 5 menit lagi,  baru mandi, atau mandi sekarang, kemudian bisa melanjutkan main sampai kita semua siap berangkat



Salam Ibu Profesional,



/Tim Bunda Sayang IIP/



Sumber bacaan:

  • Albert Mehrabian, Silent Message : Implicit Communication of Emotions and attitudes, e book, paperback,2000
  • Dodik mariyanto, Padepokan Margosari : Komunikasi Pasangan, artikel, 2015
  • nstitut Ibu Profesional, Bunda Sayang : Komunikasi Produktif, Gaza Media, 2014
  • Hasil wawancara dengan Septi Peni Wulandani tentang pola komunikasi di Padepokan Margosari

Sesi Tanya Jawab
1. Teh Eka Abdi Negari
Saat kita bersemangat untuk belajar dan suami sangat mendukung waah rasanya bahagia sekali. Tapi jika dukungan itu tidak dibarengi dengan "sama sama" belajar ada rasa "mmh.. Ko saya merasa berjuang sendiri ya??" ada yg mengganjal di hati. Meskipun hal itu sudah disampaikan pada suami. Mmm.. berarti komunikasi dengan pasangan belum produktif kan?
Jadi apa yg bisa kita lakukan sbagai istri saat suami kita kurang berbinar2 dalam belajar parenting dan lebih meyerahkannya pada si ibu?
Jawab : 
Ketika ganjalan hati sudah disampaikan, bagaimana tanggapan suami?
Kenapa suami kurang berbinar-binar belajar parenting?
***
2. Teh Arini
Bagaimana agar komunikasi produktif dapat konsisten diterapkan sehari-hari? Sebelumya kondisi lingkungan keluarga saya  masih tinggal bersama mertua yang ternyata selama ini kami selalu menggunakan kalimat tidak produktif pada anak-anak maupun orang dewasa lainnya?
Jawab :
Latihan, latihannya harus konsisten dan terukur... Nanti akan ada tantangan berkaitan dengan ini.
***

3. Teh Zulfa
Sejak baru lahir saya selalu berusaha mencoba memberikan kalimat perintah dengan kata "tolong", "ayo", "mari" dll. Ataupun kalimat larangan menghindari bentakan or kata jangan dll. Tapi, disisi lain karena masih numpang dirumah mertua dengan banyak orang dan berbeda usia mereka kadang memberikan kalimat yang negatif seperti dijelaskan diatas. Bagaimana solusi supaya usaha saya tidak sia2 untuk mendidik anak?
Jawab :
Jika konsisten insyaa Allah tidak akan sia-sia. Solusinya perbanyak ngobrol berdua, membahas apa yang terjadi hari itu... Dan mana yang baik dan kurang baik.
***

4. Teh Indah
Teh bagaimana caranya kita berkomunikasi dengan orang dewasa lainnya yang cenderung defensif. Khususnya berkomunikasi dengan orangtua. Sudah sangat jelas FoR dan FoE nya berbeda sekali. Maksud hati berbagi pandangan tapi dari pihak orangtua selalu merasa disalahkan, padahal sudah disampaikan pada timing yang tepat, diksi yang dipikirkan dengan matang matang. Kurang latihan apa kurang sabar ya?
Jawab :
Tantangan ini yaa

Materi komunikasi produktif menjelaskan bahwa komunikasi dengan orang tua sarat dengan aspek emosi. Nah, kita bisa coba mencari titik sarat emosi yang tepat pada orang tua. Kemudian dari titik itu kita coba untuk berbagi pandangan.

Yuk terus berlatih dan sabar😊
***
5. Teh Lia
Saya dibesarkan di lingkungan yang punya kebiasaan bicara/menanggapi sesuatu dengan kata2 pedes, meskipun tidak marah, dan nada datar tapi pilihan katanya lumayan nyelekit, itu yang saya rasakan dari kakek, nenek paman bibi (keluarga Bapak saya) orang tua saya, sekarang ke saya, memperlakukan anak dan suami kadang2 dengan bahasa judes, (walau tujuan nya tegas) apalagi disaat emosi, tapi kepada org lain yang tidak begitu, saya sangat menjaga sekali.
Saya ingin sekali menghentikan ini, karna saya sangat menyesal kalo sudah melakukannya, dan sepertinya sudah mulai menular kepada anak saya yang SMP, tapi kenapa susah banget mungkin karena sudah tertanam dari kecil, apa yang harus saya lakukan ya?
Jawab :
Kita ganti kata 'susah' menjadi 'menarik'   _ingat materi di poin komunikasi dengan diri sendiri_

Ada keinginan untuk menghentikan kebiasaan kurang baik dan merasa menyesal setelah melakukannya, ini poin plus untuk teh Lia.

Selanjutnya, kita niatkan dengan sungguh-sungguh mulai praktek komunikasi produktif.
Mulai dari diri kita sendiri, belajar berpikir positif, insyaAllah kata-kata yang keluar dari mulut kita pun positif dan membawa dampak positif pula.
***

6. Teh Mira Budi
1. Komunikasi dgn pasangan : biasanya sebelum berkomunikasi khususnya bertukar pikiran, pastinya masing2 sudah punya fondasi/alasan atas sesuatu yg akan dikemukakan. Tidak jarang pasti masing2 memiliki perbedaan persepsi seauai dgn FOR dan FOE nya. berarti kesimpulan saya harus ada kesamaan yang ditarik dari perbedaan yg ada, tentunya apa yg disampaikan itu harus memiliki ilmunya. Ambil lah bhw kesamaan nya itu ialah setiap masalah dikembalikan pada al quran dan hadits. Sehingga berangkat dari alas yg sama diharapkan komunikasi tdk menyimpang jauh. Tetapi bila hal yg dikomunikasikan tetap sj ada persepsi yg berbeda jauh dikarenalan pemahaman yg berbeda. Bagaimana seorang isteri harus menyikapi kesenjangan pemahaman?

2. Komunikasi dgn anak. Point K, ganti perintah dgn pilihan. Kapan kita memberi perintah dan kapan tepatnya kita memberi pilihan?

Jawab :
1. Kalau ada kesenjangan, berarti ngobrolnya kurang akrab. Seperti apa kata Pak Dodik, perbanyak kegiatan main dan ngobrol bersama.

2. Sejak dini..
Misal : Teh Chika berkomunikasi dengan putrinya Evelyn.

Evelyn mau bantu menyiapkan makanan atau merapikan kamar? Atau... Makannya mau dengan sayur atau makan sayurnya dipisah setelah makan?
***

7. Teh Novi
saya kesulitan menghadapi anak sulung saya (7 th). Kalau saya menyuruh sesuatu (misalnya shalat), jarang sekali langsung dikerjakan. Mulai dari saya bicara baik-baik sampai akhirnya saya kesal dan marah, belum tentu juga dikerjakan. Boleh minta masukannya seperti apa dan bagaimana saya menghadapi anak saya?
Jawab :
Evaluasi dulu, apakah kita sudah menanamkan Iman dan kecintaan pada Tuhannya. Karena jika anak sudah suka, cinta, pasti ia akan semangat berbicara pada Tuhannya. Kita juga begitu kan? Ini PR kita seumur hidup.

Apakah dengan memaksanya Shalat, ia menjadi cinta shalat?
Solusinya, mari kita belajar sama-sama untuk berkata dan bersikap positif dengan mempraktekkan komunikasi produktif.

Sering-sering ngobrol bareng anak tentang shalat, seberapa penting shalat untuk kehidupan kita.
***

8. Teh Mae
Mengenai komunikasi produktif bersama suami atau pun anak. Kebetulan saya terbiasa dengan kebiasaan berbicara singkat, bertanya detail karena dulu saya reporter majalah dan kuliah jurnalistik jadi ga bertele2. Sehingga ketika ngobrol sama anak suka tegas musal "dede ayo beresin mainanya kan katanya mau ice cream" sama suami pun begitu kalau tidak segera dilakukan saya suka jadi ngambek karena sering ditunda2 pkerjaannya. Bagaimana cara berkomunikasi yang pas. Padahal kalau ke orang lain mah bisa diatur tapi karena sm suami dan anak kadang jd seenaknya?

Jawab :
Jika komunikasi 'to the point' bisa diterima baik oleh suami dan anak, itu berarti pesannya sampai. Nah, 'tidak segera dilakukan' itu karena apa? Sudah dicross cek?

Suami dan anak-anak adalah pelanggan utama kita. Yuk kita mulai optimalkan praktek komunikasi produktif terutama di dalam keluarga kita.
***

9. Teh Nurul
Bagaimana kiat2 membangun komunikasi produktif setiap saat setiap waktu?
Jawab :
Kita mulai dari diri kita sendiri untuk selalu berpikir positif.
***
10.  Teh Eva
Apabila dalam pelaksanaannya, ada beberapa hal yang tidak bisa disamakan antara pendapat istri dan pendapat suami, bagaimana menyikapinya?apakah tetap dicari pendapat *kita* atau tetap jalan dengan pendapat masing2?
Jawab :
Tergantung pendapatnya apa. Rasa-rasanya tidak ada yang tidak bisa dicari titik temunya, jika sudah berkomunikasi dengan produktif. Terus berusaha, sambil memaklumi fitrah suami yang ingin istrinya patuh.
***

11. Teh Atin
Bagaimana cara memperbaiki pola komunikasi anak yg sudah terlanjur salah meng-copy dari kita orang tuanya?
Jawab :
Yang diajarkan bu Septi.. minta maaf pada anak, maafkan diri sendiri, lalu berlatih untuk berubah.
***
12. Teh Farah
1. Komunikasi dgn orang dewasa
Jika komunikasi menjadi tdk efektif, dan berujung kesal, dan lawan bicara tahu saya kesal. Saya lebih memilih diam, dan tidak mau membahasnya sama sekali, karena saya sadar itu kesalahan saya dalam berkomunikasi. Tapi, rata2 lawan bicara saya selalu "memaksa" mengclear.kan apa yang sebenarnya terjadi. Baiknya sikap saya seperti apa?

2. Komunikasi pada anak.
Saya pernah mengikuti kulwap tentang komunikasi pada anak. Kemudian, dalam pembahasannya diuraikan, bahwa ada anak yang memiliki tipe "untung", ada juga yg sebaliknya.
Contohnya begini :
"Klo ade mau es krim, ade harus bereskan dulu mainannya." Tipe untung.

Tipe anak yg sebaliknya.
Ade bereskan mainamnya dlu ya, nanti dapat es krim".

Dan kedua contoh itu ternyata memang beda efeknya, walau imbalannya sama2 es krim.

Lain waktu, saya menangkap kalimat itu seperti contoh d atas itu seperti sebuah "ancaman".
Nah, saya jadi bingung, bagaimana menyikapi anak yg tipe untung tanpa ada bahasa ancaman?

Jawab :
1. Putus jalur emosi, jeda sebentar... Setelah tenang, baru ungkapkan.. Misalnya: "Saya minta maaf, tidak bisa memastikannya saat ini, saya perlu berpikir lagi."

2. Yang saya pahami dari penjelasan Ibu Septi, pada anak menerapkan resiko dan konsekuensi. Bukan stick and carrot. Jadi sepakat dulu dengan anak. Adik mau yaa... belajar makan sendiri. Bunda senang dan bangga kalau adik bisa makan sendiri. Kalau adik makan sendiri selama 7 hari, kita makan es krim bareng yaa.


****

Selasa, 21 Februari 2017

Review Tantangan 10 Hari KOMUNIKASI PRODUKTIF

Review Tantangan 10 Hari

Materi Bunda Sayang #1 :
Institut Ibu Profesional

KOMUNIKASI PRODUKTIF

Pertama, Kami ucapkan selamat kepada teman-teman yang telah melampaui tantangan 10 hari dalam berkomunikasi produktif, dinamika yang terpancar dalam tantangan 10 hari ini sungguh beragam. Mulai dari memperbincangkan hal teknis sampai dengan tantangan nyata komunikasi kita dengan diri sendiri, dengan pasangan dan dengan anak-anak. Mungkin beberapa diantara kita tidak menyadari pola komunikasi yang terjadi selama ini, tetapi setelah mengamati dan menuliskannya selama 10 hari berturut-turut dengan sadar, baru kita paham dimana titik permasalahan inti dari pola komunikasi keluarga kita.

πŸ“£πŸ“’ KOMUNIKASI DENGAN DIRI SENDIRI πŸ‘©


Dari “TANTANGAN 10 HARI” sebenarnya kita bisa melihat pola komunikasi dengan diri kita sendiri, bagaimana kita memaknai satu kalimat di atas. Limit yang kita tentukan bersama di tantangan ini adalah 10 hari, maka kita bisa melihat masuk kategori tahap manakah diri kita :

a. Tahap Anomi : Apabila diri kita belum memperlihatkan tanda-tanda awal perilaku yang dinyatakan dalam indikator, belum mulai menulis tantangan 10 hari satupun, karena mungkin belum memahami makna dari sebuah konsistensi.

b.Tahap Heteronomi : Apabila diri kita sudah mulai memperlihatkan adanya tanda-tanda awal perilaku yang dinyatakan dalam indikator, tapi belum konsisten. Kadang menuliskannya, kadang juga tidak. Hal ini karena dipicu oleh pemahaman dan mendapatkan penguatan dari lingkungan terdekat yang membentuk opini dan persepsi sendiri.

c. Tahap Sosionomi : Apabila diri kita sudah mulai memperlihatkan adanya tanda-tanda awal perilaku yang dinyatakan dalam indikator, dan sudah mulai konsisten. Menjalankan tantangan tepat 10 hari. Hal ini karena dipicu sebuah kesadaran dan mendapat penguatan dari lingkungan terdekat.

d. Tahap Autonomi : Apabila diri kita terus menerus memperlihatkan perilaku yang dinyatakan dalam indikator secara konsisten, tidak  hanya berhenti pada tantangan 10 hari, anda terus melanjutkannya meski tidak ada yang menyuruh, tidak ada yang menilai. Berkomunikasi produktif sudah menjadi budaya dalam kehidupan anda.

“10 Hari” adalah Limit terendah kita, hal tersebut hanyalah sebuah tetapan untuk mempermudah tercapainya sebuah tujuan.

Maka komunikasi kita dengan diri sendiri harus bisa terus mengupgrade limit tersebut. Dari sekarang kita harus paham benar bahwa limit kita adalah unlimited. Tidak ada yang mampu membatasi kita kecuali diri kita sendiri. Dengan konsep tersebut maka tidak ada yang tidak mungkin. Tentukan limit anda setinggi mungkin untuk diraih dan selalu diperbarui.

Kuncinya adalah komunikasi produktif dengan diri sendiri.

"The greater danger of most of us is not that our aim is too high and we miss it, but it is too low and we reach it"
 – Bahaya besar bukan karena kita mempunyai target tapi tak mampu mencapainya. Akan jauh lebih berbahaya jika kita mempunyai target yang terlalu rendah dan kita berhasil mencapainyaMichael angelo

πŸ’‘πŸ‘« KOMUNIKASI DENGAN PASANGAN πŸ‘«πŸ’‘


Dalam prakteknya ternyata ini menjadi bagian yang sangat seru yang dihadapi oleh teman-teman semua. Karena ada beberapa faktor yang mempengaruhi pola komunikasi anda dengan pasangan
yaitu :

a. Faktor Eksteropsikis ( Ego sebagai Orangtua)
Yaitu bagian dari kepribadian yg menunjukkan sifat-sifat orang tua, berisi perintah (harus & semestinya). Jika individu merasa dan bertingkah laku sebagaimana orang tuanya dahulu, maka dapat dikatakan bahwa individu tersebut dalam status ego orang tua. Status ego orang tua merupakan suatu kumpulan perasaan, sikap, pola-pola tingkah laku yang mirip dengan bagaimana orang tua individu merasa dan bertingkah laku terhadap dirinya..

contoh : Seperti tindakan menasihati orang lain, memberikan hiburan, menguatkan perasaan, memberikan pertimbangan, membantu, melindungi, mendorong untuk berbuat baik adalah sikap yang nurturing parent (NP).

Sebaliknya ada pula sikap orang tua yang suka menghardik, membentuk, menghukum, berprasangka, melarang, semuanya disebut dengan sikap yang critical parent (CP).

b. Faktor Arkeopsikis ( Ego sebagai anak-anak)
Yaitu bagian dari kepribadian yang menunjukkan ketidakstabilan, reaktif, humor, kreatif, serta inisiatif,masih dalam perkembangan, berubah-ubah, ingin tahu dan sebagainya. Status ego anak berisi perasaan, tingkah laku dan bagaimana berpikir ketika masih kanak-kanak dan berkembang bersama dengan pengalaman semasa kanak-kanak

contoh : Dibedakan antara natural child (NC) yang ditunjukkan dalam sikap ingin tahu, berkhayal, kreatif, memberontak. Sebaliknya yang bersifat adapted child (AC) adalah mengeluh, ngambek, suka pamer, dan bermanja diri.

c. Faktor Neopsikis ( Ego sebagai orang dewasa)
Yaitu bagian dari kepribadian yg objektif, stabil, tidak emosional, rasional, logis, tidak menghakimi, berkerja dengan fakta dan kenyataan-kenyataan, selalu berusaha untuk menggunakan informasi yang tersedia untuk menghasilkan pemecahan yang terbaik dalam pemecahan berbagai masalah. Dalam status orang dewasa selalu akan berisi hal-hal yang produktif, objektif, tegas, dan efektif dan bertanggung jawab dalam menghadapi kehidupan. Jika individu bertingkah laku sesuai dengan yang telah disebutkan tadi, maka individu tersebut dikatakan dalam status ego dewasa..

contoh : Mengambil kesimpulan, keputusan berdasarkan fakta-fakta yang ada. Suka bertanya, mencari atau menunjukkan fakta-fakta, ber¬sifat rasional dan tidak emosional, bersifat objektif dan sebagainya, adalah ciri-ciri komunikasi orang dewasa.

Ketiga Ego tersebut dimiliki setiap orang, kita lihat dari caranya berkomunikasi, kalimat yang dipilih dan bahasa tubuh yang digunakan.

πŸ“ŠπŸ“ˆ ANALISIS TRANSAKSIONAL KOMUNIKASI

a. TRANSAKSI KOMPLEMENTER
jenis transaksi ini merupakan jenis terbaik dalam komunikasi antarpribadi karena terjadi kesamaan makna terhadap pesan yang mereka pertukarkan, pesan yang satu dilengkapi oleh pesan yang lain meskipun dalam jenis sikap ego yang berbeda. Transaksi komplementer terjadi antara dua sikap yang sama, sikap dewasa. Transaksi terjadi antara dua sikap yang berbeda namun komplementer. Kedua sikap itu adalah sikap orang tua dan sikap anak-anak. Komunikasi antarpribadi dapat dilanjutkan manakala terjadi transaksi yang bersifat komplementer karena di antara mereka dapat memahami pesan yang sama dalam suatu makna.

Contoh :
ketika suami meminta kita berbicara berdasarkan fakta, maka balas komunikasi tersebut dengan hal-hal yang logis.( ego dewasa)
suami : : “Arloji yang biasanya di meja ini, kok tidak ada ya mah?”( menggunakan data dan logika  - ego dewasa)
istri : “ayo kita  cari tahu bareng, terakhir ayah lepas arloji itu dimana? ( menggunakan e go dewasa)

b. TRANSAKSI SILANG
terjadi manakala pesan yang dikirimkan komunikator  tidak mendapat respons sewajarnya dari komunikan. Akibat dari transaksi silang adalah terputusnya komunikasi antarpribadi karena kesalahan dalam memberikan makna pesan. Komunikator tidak menghendaki jawaban demikian, terjadi kesalah¬pahaman sehingga kadang-kadang orang beralih ke tema pembicaraan lain.

Contoh :
ketika partner kita mengajak komunikasi berdasarkan  ego dewasa, kita menanggapinya dengan ego anak-anak.

Suami : “Arloji yang biasanya di meja ini, kok tidak ada ya mah?”( menggunakan data dan logika  - ego dewasa)

Istri : “Mana kutahu, aku udah capek seharian ngurus anak-anak,  masih diminta ngurus arloji” ( menggunakan ego anak-anak )

pasti akan menyulut respon emosi.

c. TRANSAKSI TERSEMBUNYI
jika terjadi campuran beberapa sikap di antara komunikator dengan komunikan sehingga salah satu sikap menyembunyikan sikap yang lainnya. Sikap tersembunyi ini sebenarnya yang ingin mendapatkan respons tetapi ditanggap lain oleh si penerima. Bentuk-bentuk transaksi tersembunyi bisa terjadi jika ada 3 atau 4 sikap dasar dari mereka yang terlibat dalam komunikasi antar¬pribadi namun yang diungkapkan hanya 2 sikap saja sedangkan 1 atau 2 lainnya ter¬sembunyi.

Contoh:
Seorang ibu masuk ke dalam sebuah toko untuk membeli sebuah lemari es. Sang penjual memperlihatkan beberapa merk, dengan menyebutkan harganya. Sang ibu melihat lemari es yang tinggi dan bertanya: “Berapa harga yang tinggi itu?” (ungkapan dari ego state dewasa dan mengharapkan respon dari ego state dewasa juga).

Penjual itu kemudian menanggapi: “Yang itu terlalu mahal bagi Ibu.” Tanggapan ini memang terlihat sebagai transaksi antara ego state dewasa dan dewasa, tetapi ada unsur tersembunyi di dalamnya yang tidak jadi terumuskan, yaitu: “Ibu tidak mempunyai cukup uang untuk membeli yang mahal itu”. Kemudian sang ibu merasa tersinggung, dan memang begitulah maksud penjual itu, menyinggung perasaan sang ibu dengan mengatakan bahwa ibu itu tidak mampu membeli lemari es yang mahal.

Menanggapi pernyataan itu, untuk membuktikan bahwa dirinya mampu membeli barang mahal itu, sang ibu lalu berkata: “Yang tinggi itu mau saya beli!”.

πŸ‘§ BERKOMUNIKASI SESUAI BAHASA CINTA ANAK πŸ‘¦


Menurut Gary Champan & Ross Campbell, MD, dalam buku mereka yang bertajuk The Five Love Languages of Children, terdapat 5 cara anak dan manusia memahami dan mengekspresikan cinta, yakni;

1. Sentuhan Fisik, 

2. Kata-kata Mendukung, 

3. Waktu Bersama, 

4. Pemberian Hadiah, 

 5. Pelayanan. 

Umumnya setiap anak bisa menerima cinta melalui 5 bahasa di atas, namun ada satu bahasa yang paling dominan pada masing-masing anak. Berikut adalah tips dalam berkomunikasi dengan si kecil sesuai bahasa cintanya.

1. Apabila bahasa cinta anak kita adalah Sentuhan Fisik
* Saat bertemu dan berpisah dengan si kecil, berilah pelukan.
* Saat si kecil stres, beri belaian untuk menenangkannya.
* Peluk dan cium si kecil saat ia tidur malam dan bangun pagi.
* Setelah mengajar disiplin pada si kecil, beri pelukan sejenak dan jelaskan bahwa pengajaran yang diberikan adalah untuk kebaikannya dan Anda tetap sayang padanya.
* Saat memilih hadiah untuknya, beri benda yang dapat ia pegang/peluk, seperti bantal, boneka, atau selimut.
* Saat menghabiskan waktu bersama si kecil, seperti menonton televisi bersama, duduklah berdekatan dengannya, sambil berpelukan.
* Sering-seringlah bertanya padanya apakah ia mau digandeng atau dipeluk.
* Apabila ia terluka, pegang dan peluk mereka untuk memberi kenyamanan.

2.Apabila bahasa cintanya adalah Kata-kata Mendukung
* Saat menyiapkan bekal untuknya, masukkan kertas kecil berisi kata-kata mendukung.
* Saat ia berhasil mencapai prestasi, tunjukkan rasa bangga Anda dengan memberi kata-kata membangun, seperti “Mama bangga dengan adik bermain adil di permainan tadi,” atau “Kakak baik sekali membantu adik membangun rumah-rumahan itu.”
* Simpan hasil karya si kecil, seperti lukisan atau tulisan, dan pajang dengan tambahan tempelan kertas mengapa Anda bangga dengan karyanya itu.
* Biasakan mengucap kata, “Mama sayang kamu,” tiap berpisah dengan si kecil atau menidurkannya di malam hari.
* Saat si kecil bersedih, bangun kepercayaan dirinya dengan mengucapkan alasan-alasan yang membuat Anda bangga padanya.

3. Apabila bahasa cintanya adalah Waktu Bersama
* Coba libatkan anak dalam aktivitas-aktivitas Anda, seperti belanja ke supermarket, memasak, mencuci piring, dan lain sebagainya.
* Saat si kecil ingin bercerita, hentikan sejenak aktivitas Anda untuk benar-benar menatap dan mendengarnya.
* Ajak si kecil memasak bersama, seperti membuat kue atau camilan lainnya.
* Tanyakan kepada si kecil mengenai tempat-tempat yang ingin ia kunjungi, dan jika ada kesempatan, beri kejutan dengan mengajak mereka ke tempat-tempat tersebut.
* Biasakan untuk memintanya menceritakan hari yang ia lalui di sekolah atau aktivitas lain yang telah ia lakukan.
* Saat mengajak si kecil bermain, bermainlah bersamanya ketimbang hanya menonton.
* Jika Anda memiliki lebih dari 1 anak, tetapkan jadwal bermain dengan masing-masing anak secara individu, tanpa melibatkan yang lain.

4.  Apabila bahasa cintanya adalah Pemberian Hadiah
* Kumpulkan hadiah-hadiah kecil (tak perlu mahal) untuk diberikan kepada si kecil di saat-saat yang pas.
* Bawa permen atau camilan kecil lain yang dapat Anda berikan pada si kecil saat sedang bepergian.
* Beri makanan kesukaan si kecil, Anda bisa memasaknya sendiri atau mengajak si kecil ke restoran kesukaannya.
* Buah sebuah “kantong hadiah” berisi hadiah-hadiah (tak perlu mahal) yang dapat dipilih si kecil saat ia melakukan prestasi.
* Saat menyiapkan bekal untuknya, selipkan hadiah kecil untuknya.
* Buatkan semacam permainan teka-teki untuknya mencari hadiah dari Anda.
* Daripada membeli hadiah ulang tahun yang mahal, buatkan pesta ulang tahun meriah di tempat yang ia sukai.

5. Apabila bahas cintanya adalah Pelayanan
* Temani ia saat mengerjakan pekerjaan rumahnya.
* Saat ia sedih atau menghadapi kesulitan, buatkan makanan kesukaannya.
* Daripada menyuruhnya tidur, gendong atau gandeng mereka ke tempat tidur.
* Saat sedang bersiap-siap berangkat ke sekolah, bantu mereka memilih pakaian untuk hari itu.
* Mulai ajarkan si kecil mengasihi orang lain dengan memberi contoh membantu orang lain atau memberi sumbangan kepada orang yang kurang mampu.
* Saat si kecil sakit, angkat semangatnya dengan menonton film, membaca buku, atau masak sup yang ia sukai.
* Saat menyiapkan sarapan, makan siang, atau makan malam, selipkan makanan penutup atau camilan kesukaan mereka.

Cara mengamati bahasa cinta anak :

1.  Amati cara si Kecil mengekspresikan cintanya pada Mama
Apabila si Kecil seringkali mengucapkan “Aku sayang Mama” atau “Terima kasih Mama atas makan malam yang enak”, Bahasa Cinta yang dominan padanya mungkin adalah “Kata-kata Mendukung”.

2. Amati cara si Kecil mengekspresikan cinta kepada orang lain
Apabila si Kecil seringkali ingin memberikan hadiah kepada teman atau gurunya, mungkin Bahasa Cinta yang dominan padanya adalah “Pemberian Hadiah”.

3. Pelajari apa yang seringkali diminta oleh si Kecil
Apabila si Kecil sering meminta Mama untuk menemaninya bermain atau membacakan cerita untuknya, maka Bahasa Cinta yang dominan padanya mungkin “Waktu Bersama”. Sedangkan kalau si Kecil sering meminta pendapat Mama mengenai apapun yang sedang dilakukannya, seperti “Mama suka ga sama gambarku?” atau “Bajuku bagus ga Ma?”, mungkin Bahasa Cinta yang dominan padanya adalah “Kata-kata Mendukung”.

4. Pelajari apa yang seringkali dikeluhkan oleh si Kecil
Apabila si Kecil sering mengeluh mengenai kesibukan Mama atau Papa diluar rumah, seperti “Papa kok kerja terus yah” atau “Mama kok ga pernah mengajakku ke taman lagi,” maka mungkin Bahasa Cinta yang dominan padanya adalah “Waktu Bersama”.

5. Beri 2 pilihan kepada si Kecil
Dalam melakukan aktivitas sehari-hari, Mama bisa menanyakan apa yang diinginkan si Kecil, untuk menemukan Bahasa Cinta yang dominan padanya. Pertanyaan yang diberikan dapat berupa pilihan antara 2 Bahasa Cinta. Contohnya, saat Mama ada waktu luang, dapat memberi pilihan kepada si Kecil seperti “Sore ini adik mau Mama temani jalan-jalan atau mau Mama betulkan rok adik yang rusak?”, dengan memberi pilihan ini maka Mama memberikan pilihan antara Bahasa Cinta “Waktu Bersama” atau “Pelayanan”.


πŸ“– Sumber bacaan:

-Gary Chapman & Ross campbell M.D, The 5 Love language of children, jakarta, 2014
-Eric Berne, Games people Play, jakarta
-Eric Berne, Transaksional Analysis, jakarta.

BERTANGGUNG JAWAB TERHADAP HASIL KOMUNIKASI KITA

☕πŸͺ cemilan rabu #2 πŸͺ☕


BERTANGGUNG JAWAB TERHADAP HASIL KOMUNIKASI KITA

Bulan ini bagi teman-teman yang sudah bisa menyelesaikan tantangan 10 hari, akan mendapatkan badge yang bertuliskan

I'm responsible for my communication result

Artinya apabila hasil komunikasi kita dengan pasangan hidup, dengan anak-anak, dengan teman-teman di komunitas, rekan kerja dan masyarakat sekitar kita, tidak sesuai harapan, maka jangan salahkan penerima pesan, kitalah yang bertanggung jawab untuk mengubah strategi komunikasi kita.

Contoh kasus saya pernah jengkel dengan assisten rumah tangga saya yang biasa dipanggil budhe. Berkali-kali diberitahu cara setrika yang benar, tapi hasilnya selalu salah.

Kondisi seperti ini biasanya akan menyulut emosi kita ke penerima pesan.

Maka saya harus segera mencari orang ketiga untuk cari solusi lain.

Saya ceritakan kondisi ini ke pak dodik, beliau hanya menjawab simple

"Kalau sekali saja diberitahu langsung paham, maka budhe itu sudah pasti jadi manager sebuah bank, bukan kerja di rumah ini"

(πŸ˜€ beginilah salah satu gaya komunikasi pak dodik)

Hmmm....sayalah yang harus mengubah strategi komunikasi saya, artinya gaya komunikasi saya tidak tepat saat itu, bukan salah budhe.

Akhirnya ketemulah pola, kalau berkomunikasi dengan budhe harus diberi contoh, tidak hanya diberitahu lewat omongan saja.

Ini baru satu contoh komunikasi kita dengan assisten rumah tangga, belum lagi kasus komunikasi kita dengan ibu kita atau dengan ibu mertua kita, pasti makin kompleks. Dan yakinlah semua itu membuat kita makin terampil berkomunikasi, selama kita tidak menyalahkan hasil komunikasi kepada orang yang kita ajak bicara.

There is NO failure, only WRONG RESULT, so we have to CHANGE our strategy

Tidak ada kegagalan berkomunikasi itu yang ada hanya hasil yang berbeda, tidak sesuai harapan, untuk itu segera ubah strategy komunikasi anda.

Ingat satu hal ini, pada dasarnya kebutuhan manusia yang paling dalam adalah keinginan agar perasaannya didengar, diterima, dimengerti dan dihargai.

Jadi dalam komunikasi, kita perlu meningkatkan kemampuan kita dalam mencoba memahami perasaan orang lain, apakah itu teman, pasangan hidup, rekan kerja, atasan, anak atau siapapun juga yang menjadi lawan bicara kita.

Untuk anak-anak, seringkali mereka belum mampu untuk mengatakan apa yang mereka rasakan, bisa jadi karena perbendaharaan kata mereka yang belum banyak.

Maka mereka akan menggunakan bahasa tubuh bahkan jauh ketika mereka belum pandai berbicara.

Sebagai orang tua maka kita harus meningkatkan kepekaan kita dalam menangkap makna dibalik bahasa tubuh dan perasaan apa yang mendasari sehingga kita bisa memahami perasaan yang ingin disampaikan si anak.

Rasa kurang percaya diri biasanya muncul karena kita “menidakkan perasaan” sehingga lawan bicara menjadi bingung, kesal, tidak mengenali perasaannya sendiri akhirnya tidak percaya pada perasaannya sendiri.

Jadi ingat dialog saya dan ibu waktu kecil

Saya : “Ibu, aku benci sama pak Guru. Tadi aku dimarahi di depan kelas”

Ibu : “Pasti kamu melakukan kesalahan makanya pak Guru marah sama kamu. Tidak mungkin kan pak Guru tiba-tiba marah”

Kalimat itu membuat saya jengkel sekali karena ibu seakan-akan justru membela pak guru dan otomatis menyalahkan saya.

Padahal saya hanya ingin di dengarkan. Sehingga kalimat

"Mbak jengkel banget ya sama pak guru, sini duduk sebelah ibu, minum teh hangat, dan mbak lanjutkan ceritanya"

Selamat melanjutkan tantangan komunikasi anda, jangan pernah menyerah walau kadang anda merasa lelah.

Salam Ibu Profesional,


/Septi Peni/


Sumber bacaan : 
- Pengalaman pribadi dalam menghadapi tantangan komunikasi sehari-hari

Sabtu, 18 Februari 2017

Aliran Rasa Komunikasi Produktif

Aliran Rasa saat belajar Komunikasi Produktif


Seperti yang pernah diutarakan dalam catatan saat mengerjakan tantangan 10 hari Komunikasi Produktif, problem utama yang saya rasakan saat praktek komunikasi produktif adalah karena belum selesai dengan diri sendiri. Sering merasa psimis, minder dan tidak bersemangat praktek. Apalagi kalau udah keceplosan, auto pilot parenting, duuuh.. rasa bersalahnya tuh bs sampe berhari-hari. Tapi inget lagi bahwa diri harus dapat menerima kesalahan, memaafkan dan melepaskan. Supaya bisa move on dan berubah πŸ˜πŸ˜„

Saya bersyukur bisa mengikuti kelas bunda sayang ini, karena kali ini kita dituntut untuk dapat praktek setiap hari, setiap saat, setiap ada kesempatan di setiap keadaan. Dengan challenge yang terukur dan terarah diharapkan dapat menjadi kebiasaan baru yang positif. Insyaallah

Bagaimana rasanya?
Nano-nano . . . πŸ˜‚πŸ˜‚ ada seneng, sedih, lelah, semangat, tapi sempet ngerasain mentok juga. Alhamdulillahnya saya ga sendirian, ada temen2 seperjuangan yang juga sama-sama belajar, berproses dan berubah. Sama-sama ngalamin dan ngerasain nano-nano . . . Jadi yaa nikmati aja prosesnya, menikmati perjalanannya, lakukan dan terus lakukan.

Seperti satu bait lirik lagu yang selalu saya ingat "jalani saja, lakukan saja, kita kan mampu melaluinya" 🎡🎢🎀

Jadi semangaaat!!! πŸ’ͺπŸ’ͺπŸ’ͺ



#aliranrasa
#komunikasiproduktif


Minggu, 05 Februari 2017

Hari ke-10 KOMUNIKASI PRODUKTIF

We time


Malam hari setelah anak-anak tidur, biasanya adalah waktu me time saya, juga suami. Jadi kami sama-sama me time alias punya waktu sendiri-sendiri 😁😁
Itu terjadi jika saat saya coba samperin suami, trus saya ajak ngobrol tapi pak suaminya tetep anteng lihat tv. Matanya ga tertuju kesaya πŸ˜‚πŸ˜‚ kalau begitu lalu saya ngeloyor pergi ke kamar tidur dan ambil kesimpulan kalau pak suami sedang ingin me time. Hee...

Kenapa?

Karena saya pribadi setuju sekali dengan materi komunikasi produktif bagian : intensity of eye contact. Saya merasakan sekali betapa kita merasa diperhatikan dan didengarkan saat orang yang kita ajak bicara menatap mata kita, fokus. Ga lihat kemana-mana, ga sambil nonton atau memperhatikan hal lain. Hanya ada kita dimatanya....*eeeaaaa
(Kalau istilah yang saya dapet pas jaman sekolah di SMK mah "eye contact that show we care")

Tapiii..biasanya kalo saya dah ngeloyor ke kamar pak suami suka nyamperin ngajak ngobrol trus saya cepet-cepet simpen gadget yang lagi dipegang lalu fokus lihat matanya dengan lembut *praktekin materi kompro 😁😁

Maka terjadilah We time. kami ngobrol santai, biasanya saya berusaha ga banyak bicara dan ngasih kesempatan untuk suami cerita. Mulai dari hari-harinya dikantor, rencana atau proyek yang sedang dikerjakan, mahasiswanya, dll. Pokoknya tentang pekerjaan atau kuliahnya. Kadang-kadang pak suami minta saran or pendapat juga kalau lagi bingung mengambil keputusan berkaitan dgn pekerjaan. Dan ini membuat saya merasa tenang dan nyaman. Hehehee...


#hari10
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Sabtu, 04 Februari 2017

Hari ke-9 KOMUNIKASI PRODUKTIF

Menenangkan sang adik, Pian


Setelah sholat subuh, suami pamit berangkat nganterin mamah saya ke terminal bis karena mau pulang kampung beberapa hari. Sendirian, karena ada urusan disana. Sedangkan bapak dan adik saya Pian. yang masih kelas 4 SD tetep dibandung.

Setelah beberapa lama suami berangkat naik motor, saya mendengar suara motornya lagi. Saya agak heran kok itu motor balik lagi, aah mungkin motor orang lain yang suaranya mirip pikir saya. Ternyata itu memang motor suami yang balik lagi bareng mamah yg dibonceng, saya buka gerbang. Terus mamah dengan wajah kesal bilang "neng, itu pian nangis pengen ikut, ngejar2 motor, olo dulu sana. Mamah udh siang nih" (sebenernya ngomong pake basa sunda, tp saya ganti pakai bahasa indonesia)

Bapak lagi ga ada karena kalau subuh kerja dipasar, jadi pas mamah berangkat pian mungkin ngerasa kesepian karena ga ada siapa-siapa dirumah. Untung rumah mamah dan rumah saya deketan.
Pian dateng sambil nangis kejer, heboh banget, dan maksa-maksa pengen ikut mamah. Ga mau ditinggal. Mamah kesal dan malah marahin pian. Saya coba samperin pian, tapi dia ga mau dideketin. Nangisnya makin menjadi dan mamah udah ga sabar karena harus cepet berangkat ngejar bis. Saya berusaha tenang dan berpikir apa yang musti saya lakukan.

Saya pegang pundak pian dan mengelusnya, mencoba menenangkan agar pian mau mendengarkan kata-kata saya. Saya coba berkomunikasi dengan berusaha dulu berempati terhadap kesedihan yang dia rasakan akan ditinggal mamah beberapa hari. Saya bilang "teteh tau pian sedih, teteh juga pernah ngalamin ditinggal mamah. Tapi da tetep ga bisa ikut karena teteh musti sekolah waktu itu. Nah pian juga sama, kan harus masuk sekolah"

Pian mulai tenang, dan nangisnya mulai pelan. Lalu saya lanjutkan bicaranya saya bilang kalau pian ga sendirian, ada bapak, saya, husna, rais, aa. Pokoknya saya tenangin dan hibur pian. Alhamdulillah pian mau ngerti dan bolehin mamah berangkat. Setelah mamah berangkat, saya coba hibur lagi pian, terus minta husna & rais untuk main sama pian sebelum pian ke sekolah supaya dia ga ngerasa kesepian.


#hari9
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Jumat, 03 Februari 2017

Hari ke-8 KOMUNIKASI PRODUKTIF

Luka dihidung Husna 


Sudah beberapa hari lubang hidung Husna yang sebelah kiri luka. Ntah apa penyebabnya karena awalnya husna ngeluh kalau hidung sebelah kirinya gatal. Pas saya cek, ternyata ada luka, dan sedikit merah. Husna sering garuk-garuk itu hidung sampe lukanya jd membesar.
Sudah saya sarankan untuk diobati, tapi husnanya ga mau sakit katanya. Saya bilang "jangan dikorek-korek nanti lukanya tambah parah & ngebesarin, kalau mau ngebersihin pakai air dulu biar gampang bersihinnya"

Uupss... setelah nyerocos gitu saya baru inget kalau itu bukan komunikasi produktif πŸ™ˆπŸ™ˆ
Saya malah pakai gaya populer yang ga efektif. Dan terang saja, Husna ga nangkep apa yang saya sarankan. Luka hidungnya tetep dia korek-korek, ga mau bersihin seperti yang disarankan ga mau saya obati juga karena takut sakit.

Saya lihat itu hidungnya tambah merah dan berdarah tapi husna ga mau bilang karena takut. Saya ingat tentang "gantilah nasehat dengan refleksi pengalaman" lalu saya panggil husna, saya bilang kalau saya mau cerita. Husna tampak semangat..
"Dulu bunda pernah luka di daun telinga yang dekat lubangnya karena bunda garuk-garuk terus. Makin digaruk malah makin gatel, dan jadi luka deh. Kalau udah luka rasanya tuh sakiit banget, sampe tidur juga tetep kerasa sakit" tutur saya, menceritakan pengalaman sakit telinga dulu

"Terus gimana?" Tanya husna dengan penasaran
"Terus bunda obatin, tapi sebelum diobatin harus periksa dulu ke dokter karena bunda ga tau obatnya" jawab saya
"Diobatin kan sakit bun" seru husna
"Iya sakit, tapi kan bunda pengen sembuh. Alhamdulillah setelah diobati sekarang telinga bunda ga sakit lagi" jelas saya, lalu lanjut bertanya "teteh mau sembuh juga hidungnya?"
"Mau" jawabnya, lalu setelah itu dengan tenang husna mau diobati dan tersenyum karena ternyata pas saya olesi ga kerasa apa-apa alias ga sakit.

Alhamdulillah, komunikasinya berhasil 😁😁😁

#hari8
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Kamis, 02 Februari 2017

Hari ke-7 KOMUNIKASI PRODUKTIF

Sounding untuk Toilet Training Rais


"De.. pipisnya di kamar mandi ya" jelas bunda, dan Rais dengan mantap menjawab "iyaaa"
Lalu beberapa saat kemudian "nda.. dede pipis" lapor Rias yang sudah terlanjut pipis ditempat dia berada,
"Lho kok pipisnya disini, kalau mau pipis dimana?" Tanya bunda
"Di nanah (disana)" sambil nunjuk ke kamar mandi 😹😹

Begitulah hari-hari toilet training rais yang masih sering gagal dan kadang berhasil. Masih belum konsisten dan masih harus di biasain ke kamar mandi untuk pipis dan pup, jadi belum sampai dengan sendirinya pergi ke kamar mandi. Saya sadar mungkin karena saya belum konsisten mengajarkannya, juga kalimat/komunikasi produktif saya terhadap rais masih harus dilatih dan dilatih lagi.


#hari7
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Rabu, 01 Februari 2017

Hari ke-6 KOMUNIKASI PRODUKTIF

Self Compassion


Rasanya dalam beberapa waktu saya bingung hendak menulis dan bercerita apa, karena dalam hari - hari berusaha praktek komunikasi produktif, saya masih saja keceplosan mengatakan hal-hal yang sebenarnya bukan kalimat produktif, terutama pada si sulung husna.

Hal itu membuat saya sedih, merasa buruk dan merasa gagal sebagai orang tua untuk memberi contoh pada anak-anaknya πŸ˜₯πŸ˜₯
Sampai sampai adiknya husna, yaitu Rais meniru kata-kata yang saya ucapkan ketika emosi seperti kata "cicing" (basa sunda kasar yang artinya diam). Astagfirullah . . .

Semakin merasa bersalah lah saya, apalagi kalau suami sudah menegur dan mengatakan "bunda atuh da kasar kalo marah teh" hiks... rasanya periiih jendral 😭😭
Dikondisi seperti itu, merasa buruk, gagal, sedih, dsb selftalk saya semakin menyalahkan dan semakin membuat saya frustasi. Tapi saya coba ingat lagi bahwa komunikasi produktif tidak hanya kita gunakan saat berbicara dengan orang lain tapi juga pada diri sendiri.

Maka saat itu saya berusahan untuk memilih kata-kata yang tidak memojokkan, kata-kata menghibur, mengerti, menerima dan memaafkan kesalahan diri sendiri. Saya afirmasi terus kata-kata positif terhadap diri sendiri. Saya tidak mau terpuruk dalam kesalahan dan menyerah pada kelemahan dan kesalahan saya. Sebaliknya saya ingin bangkit, bersemangat dan berubah. Memperbaiki kesalahan dan ke khilafan saya, keluar dari auto pilot parenting dan mempraktekkan parenting yg sudah saya pelajari

Karena ini adalah proses panjaaang dan terus menerus, maka sangat rugi dan sayang sekali jika saya habiskan waktu untuk menyalahkan diri sendiri. Walau Lagi-lagi saya masih harus memperbaiki cara berkomunikasi terhadap diri sendiri, saya akan nikmati dan jalani proses itu. Insyaallah, Aamiin

#hari6
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang

Selasa, 31 Januari 2017

Hari ke-5 KOMUNIKASI PRODUKTIF

Husna and her skate

Hari ahad waktunya family time. Kali ini pagi-pagi kami main ke gor saparua karena husna pengen main skate. Lama muter - muter disana dan kami juga main ke lapangan yang khusus latihan atlet in line skate. Saya takjub melihat para atlet itu dengan lihainya berlari di track dengan skate seperti memakai sepatu biasa.

Lalu suami mencari informasi klub atau komunitas in line skate untuk husna, karena husna lebih semangat belajar kalau ada pelatihnya.
Alhamdulillah info tentang kegiatan latihan, dll sudah di dapat. Hari sudah siang dan matahari sangat terik, husna juga sudah puas main, jadi kami memutuskan untuk pulang.

Sore hari saya, suami dan anak-anak kerumah teman untuk menengok anaknya yang baru saja pulang dari rumah sakit karena sakit typhus. Saat ngobrol dengan sang teman, dia bercerita tentang fenomena in line skate yang tiba-tiba saja ramai, terus cerita juga tentang anak temannya yg jatuh sampai harus dioperasi karena kepalanya terbentur saat main skate. Saya jadi khawatir karena husna suka sekali main sepatu itu, malah sejak lama, sejak usianya 3thn lebih sudah minta dibelikan sepatu roda.

Malam harinya saat family forum, kami membahas tentang tindak lanjut dari informasi yang didapat saat di gor saparua. Suami berencana memasukkan husna ke klub supaya husna lebih fokus dan enjoy belajarnya. Tapi karena kabar dari sang teman sore tadi tentang kecelakaan,dll saya masih khawatir, apa ga usah aja ya husna ikut klub. Gmn kalau jatuh, cidera, kalau begini, kalau begitu.

Lalu suami menjelaskan alasannya memasukkan husna ke klub justru supaya husna lebih aman karena ada pelatih dan ada teman-teman yang lebih jago. Juga karena bisa main ditempat yang seharusnya, bukan disembarang tempat/jalan. Suami lalu menambahkan bahwa kecelakaan rawan terjadi jika skate di pakai bukan di tempatnya, tanpa pendampingan sang ahli dan tanpa tau dasar-dasar penggunaannya. Begitu jelas suami,meyakinkan.

Saya jadi lebih tenang, sudah clear tentang ke khawatiran saya. Lalu saya menanyakan ke husna apakah dia benar mau belajar skate dengan pelatih di saparua, husna mengangguk sambil bilang "mau mau" dengan mata berbinar-binar.

Baiklah, setelah forum dan diskusi yang cukup panjang, kami sepakat untuk mendukung kegemaran husna yang sedang senang bermain skate. Suami dan saya juga berencana melengkapi peralatan safety play nya karena masih belum lengkap. Semoga keputusan kami ini tepat, Aamiin


#hari5
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Senin, 30 Januari 2017

Hari ke-4 KOMUNIKASI PRODUKTIF

Hari ini waktunya jalan-jalan karena tanggal merah (28 januari pas thn baru imlek). Jadi saya dan suami berencana menjadikan moment ini sebagai family forum yang kami adakan saat di tempat jalan-jalan.

Namun sebelum family forum terjadi, ada sedikit drama saat diperjalanan karena si sulung husna tiba-tiba ngerengek pengen ke kebun binatang. Padahal hari itu di agenda jalan-jalannya ke teras cikapundung aja, buka krbun binatang. karena pas mau teras cikapundung ngelewat kebun binatang jadilah husna pengen ke kebun binatang.

Saya coba jelaskan kalau ke kebun binatangnya di lain waktu tapi husna keukeuh pengen nya hari itu juga. Dia ngambek dan cemberut. Saya tarik nafas panjang supaya ga kepancing emosi sama husna yang akhir-akhir ini memang sering rewel dan segala maunya harus diturutin. Saya coba kasih pengertian, tapi husnanya tetep ga mau denger. Ya udah saya kasih kesempatan husna cemberut dan perjalanan tetap dilanjutkan sampai tempat tujuan.

Setelah sampai, saya bilang ke suami kalau husna lagi ngambek karena pengen ke kebun binatang hari itu juga. Suami dengan tenang menjelaskan dan memberi pengertian, lalu kami memberikan pilihan pada husna apakah akan lanjut main ditempat itu atau terus marah dan tidak jadi main. Husna tampak berpikir, lalu melihat ke sekeliling dan mungkin tampak menyenangkan baginya jika bisa menikmati suasana, dsb. Apalagi dia lihat ada perahu karet yang sedang melaju dengan beberapa penumpang di atasnya.

Senyumnya mengembang dan husna memilih untuk bermain ditempat itu, bersedia menunda keinginannya ke kebun binatang dan berhenti rewel. Hehehehee...
Alhamdulillah acara jalan-jalan kami lancar. Disana saya dan suami juga membahas tentang rencana kami ke depan terkait kepindahan rumah, sekolah husna, dan lain-lain.



#hari4
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Minggu, 29 Januari 2017

Hari ke-3 KOMUNIKASI PRODUKTIF

Kali ini, tantangan terberat adalah menghadapi diri sendiri.
Yaa... komunikasi produktif bisa terlaksana dan lancar jaya saat emosi tenang, stabil, dan terasa nyaman. Namun seringkali hal-hal pemicu yg menyebabkan emosi meninggi dan nalar mengecil terjadi pada hari - hari. Termasuk di hari ketiga ini πŸ˜₯

Saya berusaha sekali agar setiap menghadapi si sulung husna tidak sampai auto pilot parenting, yang mana jika sudah tak terkendali yg terjadi adalah saya terpancing marah, dengan ekpresi yg bisa melukai hati anak saya dan dengan nada bicara yang pasti membuat anak saya takut. Astagfirullah . . .

Maka keterampilan untuk bisa mengendalikan diri sendiri agar tetap sabar, 'waras' dan tetap tenang dengan segala situasi dan respon sang anak menjadi sangat penting.

Malam hari sebelum tidur, saya sempatkan mindfulness duduk. Cukup lama saya lakukan karena di awal-awal saya merasa netral. Lalu semakin lama terasa ada dorongan dari dalam yang sangat kuat dan sensasi - sensasi yang tidak nyaman seperti halnya saya rasakan saat saya marah. Saya coba fokus dan dorongan itu semakin besar. Sepertinya itu energi kemarahan yg saya tahan setiap kali saya marah yg seharusnya saya alirkan, bukan dipendam. Huallahualam

Selesai mindfulness saya membuat afirmasi positif dan berkomunikasi dengan diri sendiri,  saya lakukan acceptance bahwa saya menerima kemarahan-kemarahan saya, saya terima jika saya marah, saya terima jika saya belum bisa sepenuhnya tenang menghadapi anak saya, saya terima jika saya gagal, dst.

Alhamdulillah, semoga latihan-latihan itu bisa membantu saya dalam menerapkan komunikasi produktif terutama kaidah 7-38-55 dengan lebih baik dan lebih positif. Insyaallah, Aamiin


#hari3
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Sabtu, 28 Januari 2017

Hari ke-2 KOMUNIKASI PRODUKTIF

Tantangan di hari ke - 2 datang dari husna, anak pertama kami yang berusia belum genap 6 thn. Saat family forum dan kami saling bercerita pengalaman kami hari itu, tiba-tiba husna nangis dan marah ke ayah. Ayah tidak tau kenapa husna marah lalu bertanya "kenapa?" husna dengan terbata-bata (karena bicara sambil nangis) bilang kalau dia marah ke ayah karena ayah ga bantu husna beresin mainan tadi. Saya dan suami saling berpandangan dan lalu memberi kesempatan husna untuk menangis dan lebih tenang. Saat husna lebih tenang, ayah menjelaskan kenapa tadi tidak bantu husna beres-beres, yaitu karena ayah ga tau kalau ternyata husna perlu bantuan dan ayah mengira husna bisa sendiri.

Saya yang menjadi penengah waktu itu bertanya ke husna apa husna tadi bilang ke ayah kalau husna maunya di bantu ayah? Ternyata husna bilang "ga"
Saya memberi husna pengertian kalau husna ga minta tolong, ga bilang mau dibantu, ayah ga akan tau kalau husna sebenernya pengen di bantuin beres-beres. Lalu husna menyanggah bahwa maunya ayah bantu tanpa di minta. 😁

Haduuh... ini benar-benar tantangan praktek komunikasi produktif πŸ˜‚πŸ˜‚
Ayah lalu minta maaf ke husna karena tadi ga bantu husna beresin mainan, dan husna mengangguk tanda memaafkan. Lalu mereka berpelukan.
Setelah itu ayah dan husna membuat kesepakatan. ayah bilang kalau husna perlu bantuan atau apapun harus mau bilang dan menjelaskan maunya apa karena kita ga akan tau kalau ga bilang. Husna mengerti, dan husna juga bilang kalau husna lagi sibuk beberes pengen ditanya apakah perlu bantuan atau tidak 😁😁😁

Saya merasakan bagaimana sulitnya mengendalikan emosi dan mengahadapi husna kalau sedang begini. Kadang terpancing, kadang bisa sabar. Dan tantangan sekali bagi saya untuk bisa tetap tenang jika anak-anak saya terutama husna menangis dengan sebab-sebab yang diluar dugaan. Kadang karena hal-hal yang sepertinya sepele pun bisa jadi seperti masalah besar baginya. Dalam hal ini perlu sekali penerapan kaidah 2C : Clear and Clarify 


#hari2
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Jumat, 27 Januari 2017

Hari ke-1 KOMUNIKASI PRODUKTIF


Bismillah . . .

Memasukin tantangan pertama untuk hari pertama di sesi Komunikasi Produtif, bikin deg-degan karena begitu dimulai harus bisa dikerjakan setiap hari secara konsisten.
Family forum keluarga saya ditentukan pada malam hari saat kami selesai makan malam, dimana saya dan suami sudah bisa santai dan bisa fokus pada anak-anak.

Bahasan kami kali ini adalah tentang agenda saya besok harinya dimana saya akan menghadiri acara milad nova. Saya masih belum menentukan apakah anak-anak akan ikut atau tidak. Lalu dengan bekal ilmu komunikasi produktif kami memberi pilihan pada anak-anak. Pertanyaan saya ajukan pada Rais, anak kedua kami yg berusia 2,5thn apakah mau ikut bunda atau tidak? Rais spontan jawab "ikuuut", 😁😁

Berbeda dengan tetehnya (6 thn) Husna, begitu ditanya mulai mempertimbangkan jika ikut bagaimana disana? Dan jika tidak, akan bagaimana disini?
Saya menjelaskan situasi dan kondisi jika ikut, dan juga jika tidak (karena disana tidak disediakan kids corner). Dan berdasarkan pertimbangannya husna memilih tidak ikut.

Baiklah, saya dan suami menghargai keputusannya dan membuat kesepakatan apa dan bagaimana husna saat saya tinggal. Saya yakinkan sekali lagi apakah benar husna tidak akan ikut, dan dengan mantap dia menjawab "ga ikut"
Setelah itu saya siapkan kebutuhannya, saya sampaikan apa yang saya inginkan dan memastikan husna baik-baik saja saat saya tinggal.


#hari1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip