Rabu, 22 Maret 2017

Materi Sesi #1 Kuliah Bunda Sayang - KOMUNIKASI PRODUKTIF

๐Ÿก Kelas Bunda Sayang Bandung #2
Pemandu Diskusi :
๐ŸŽค Diyah Amalia
๐Ÿ“ Sri Wahyuni Kusumawardhani

Institut Ibu Profesional
Materi Kelas Bunda Sayang sesi #1

KOMUNIKASI PRODUKTIF

Selisih paham sering kali muncul bukan karena isi percakapan melainkan dari cara penyampaiannya. Maka di tahap awal ini penting bagi kita untuk belajar cara berkomunikasi yang produktif,  agar tidak mengganggu hal penting yang ingin kita sampaikan,  baik kepada diri sendiri,  kepada pasangan hidup kita dan anak-anak kita.

KOMUNIKASI DENGAN DIRI SENDIRI

Tantangan terbesar dalam komunikasi adalah mengubah pola komunikasi diri kita sendiri. Karena mungkin selama ini kita tidak menyadarinya bahwa komunikasi diri kita termasuk ranah komunikasi yang tidak produktif.

Kita mulai dari pemilihan kata yang kita gunakan sehari-hari.

Kosakata kita adalah output dari struktur berpikir  dan cara kita berpikir

Ketika kita selalu berpikir positif maka kata-kata yang keluar dari mulut kita juga kata-kata positif, demikian juga sebaliknya.

Kata-kata anda itu membawa energi, maka pilihlah kata-kata anda

Kata  masalah gantilah dengan tantangan

Kata Susah gantilah dengan Menarik

Kata Aku tidak tahu gantilah Ayo kita cari tahu

Ketika kita berbicara “masalah” kedua ujung bibir kita turun, bahu tertunduk, maka kita akan merasa semakin berat dan tidak bisa melihat solusi.


Tapi jika kita mengubahnya dengan “TANTANGAN”, kedua ujung bibir kita tertarik, bahu tegap, maka nalar kita akan bekerja mencari solusi.


Pemilihan diksi (Kosa kata) adalah pencerminan diri kita yang sesungguhnya


Pemilihan kata akan memberikan efek yang berbeda terhadap kinerja otak. Maka kita perlu berhati-hati dalam memilih kata supaya hidup lebih berenergi dan lebih bermakna.


Jika diri kita masih sering berpikiran negatif, maka kemungkinan diksi (pilihan kata) kita juga kata-kata negatif, demikian juga sebaliknya.


KOMUNIKASI DENGAN PASANGAN
Ketika berkomunikasi dengan orang dewasa lain, maka awali dengan kesadaran bahwa “aku dan kamu” adalah 2 individu yang berbeda dan terima hal itu.


Pasangan kita dilahirkaan oleh ayah ibu yang berbeda dengan kita, tumbuh dan berkembang pada lingkungan yang berbeda, belajar pada kelas yang berbeda, mengalami hal-hal yang berbeda dan banyak lagi hal lainnya.


Maka sangat boleh jadi pasangan kita memiliki Frame of Reference (FoR) dan Frame of Experience (FoE) yang berbeda dengan kita.


FoR adalah cara pandang, keyakinan, konsep dan tatanilai yang dianut seseorang. Bisa berasal dari pendidikan ortu, bukubacaan, pergaulan, indoktrinasi dll.


FoE adalah serangkaian kejadian yang dialami seseorang, yang dapat membangun emosi dan sikap mental seseorang.


FoE dan FoR mempengaruhi persepsi seseorang terhadap suatu pesan/informasi yang datang kepadanya.


Jadi jika pasangan memiliki pendapat dan pandangan yang berbeda atas sesuatu, ya tidak apa-apa, karena FoE dan FoR nya memang berbeda.


Komunikasi dilakukan untuk MEMBAGIKAN yang kutahu kepadamu, sudut pandangku agar kau mengerti, dan demikian pula SEBALIKnya.


Komunikasi yang baik akan membentuk FoE/FoR ku dan FoE/FoR mu ==> FoE/FoR KITA


Sehingga ketika datang informasi akan dipahami secara sama antara kita dan pasangan kita, ketika kita menyampaikan sesuatu,  pasangan akan menerima pesan kita itu seperti yang kita inginkan.


Komunikasi menjadi bermasalah ketika menjadi MEMAKSAKAN pendapatku kepadamu, harus kau pakai sudut pandangku dan singkirkan sudut pandangmu.


Pada diri seseorang ada komponen NALAR dan EMOSI; bila Nalar panjang - Emosi kecil; bila Nalar pendek - Emosi tinggi


Komunikasi antara 2 orang dewasa berpijak pada Nalar.
Komunikasi yang sarat dengan aspek emosi terjadi pada anak-anak atau orang yang sudah tua.


Maka bila Anda dan pasangan masih masuk kategori Dewasa --sudah bukan anak-anak dan belum tua sekali-- maka selayaknya mengedepankan Nalar daripada emosi, dasarkan pada fakta/data dan untuk problem solving.


Bila Emosi anda dan pasangan sedang tinggi, jeda sejenak, redakan dulu ==> agar Nalar anda dan pasangan bisa berfungsi kembali dengan baik.


Ketika Emosi berada di puncak amarah (artinya Nalar berada di titik terendahnya) sesungguhnya TIDAK ADA komunikasi disana, tidak ada sesuatu yang dibagikan; yang ada hanya suara yang bersahut-sahutan, saling tindih berebut benar.


Ada beberapa kaidah yang dapat membantu meningkatkan efektivitas dan produktivitas komunikasi Anda dan pasangan:


1. Kaidah 2C: Clear and Clarify

Susunlah pesan yang ingin Anda sampaikan dengan kalimat yang jelas (clear) sehingga mudah dipahami pasangan. Gunakan bahasa yang baik dan nyaman bagi kedua belah pihak.


Berikan kesempatan kepada pasangan untuk bertanya, mengklarifikasi (clarify) bila ada hal-hal yang tidak dipahaminya.


2. Choose the Right Time

Pilihlah waktu dan suasana yang nyaman untuk menyampaikan pesan. Anda yang paling tahu tentang hal ini. Meski demikian tidak ada salahnya bertanya kepada pasangan waktu yang nyaman baginya berkomunikasi dengan anda, suasana yang diinginkannya, dll.


3. Kaidah 7-38-55

Albert Mehrabian menyampaikan bahwa pada komunikasi yang terkait dengan perasaan dan sikap (feeling and attitude) aspek verbal (kata-kata) itu hanya 7% memberikan dampak pada hasil komunikasi.


Komponen yang lebih besar mempengaruhi hasil komunikasi adalah intonasi suara (38%) dan bahasa tubuh (55%).

Anda tentu sudah paham mengenai hal ini. Bila pasangan anda mengatakan "Aku jujur. Sumpah berani mati!" namun matanya kesana-kemari tak berani menatap Anda, nada bicaranya mengambang maka pesan apa yang Anda tangkap? Kata-kata atau bahasa tubuh dan intonasi yang lebih Anda percayai?

Nah, demikian pula pasangan dalam menilai pesan yang Anda sampaikan, mereka akan menilai kesesuaian kata-kata, intonasi dan bahasa tubuh Anda.

4. Intensity of Eye Contact

Pepatah mengatakan mata adalah jendela hati


Pada saat berkomunikasi tataplah mata pasangan dengan lembut, itu akan memberikan kesan bahwa Anda terbuka, jujur, tak ada yang ditutupi. Disisi lain, dengan menatap matanya Anda juga dapat mengetahui apakah pasangan jujur, mengatakan apa adanya dan tak menutupi sesuatu apapun.


5. Kaidah: I'm responsible for my communication results

Hasil dari komunikasi adalah tanggung jawab komunikator, si pemberi pesan.

Jika si penerima pesan tidak paham atau salah memahami, jangan salahkan ia, cari cara yang lain dan gunakan bahasa yang dipahaminya.


Perhatikan senantiasa responnya dari waktu ke waktu agar Anda dapat segera mengubah strategi dan cara komunikasi bilamana diperlukan. Keterlambatan memahami respon dapat berakibat timbulnya rasa jengkel pada salah satu pihak atau bahkan keduanya.


KOMUNIKASI DENGAN ANAK

Anak –anak itu memiliki gaya komunikasi yang unik.

Mungkin mereka tidak memahami perkataan kita, tetapi mereka tidak pernah salah meng copy


Sehingga gaya komunikasi anak-anak kita itu bisa menjadi cerminan gaya komunikasi orangtuanya.

Maka kitalah yang harus belajar gaya komunikasi yang produktif dan efektif. Bukan kita yang memaksa anak-anak untuk memahami gaya komunikasi orangtuanya.

Kita pernah menjadi anak-anak, tetapi anak-anak belum pernah menjadi orangtua, sehingga sudah sangat wajar kalau kita yang harus memahami mereka.

Bagaimana Caranya ?

a. Keep Information Short & Simple (KISS)

Gunakan kalimat tunggal, bukan kalimat majemuk

⛔Kalimat tidak produktif :
“Nak, tolong setelah mandi handuknya langsung dijemur kemudian taruh baju kotor di mesin cuci ya, sisirlah rambutmu, dan jangan lupa rapikan tempat tidurmu.


✅Kalimat Produktif :
“Nak, setelah mandi handuknya langsung dijemur ya”  ( biarkan aktivitas ini selesai dilakukan anak, baru anda berikan informasi yang lain)

b. Kendalikan intonasi suara dan gunakan suara ramah

Masih ingat dengan rumus 7-38-55 ? selama ini kita sering menggunakan suara saja ketika berbicara ke anak, yang ternyata hanya 7% mempengaruhi keberhasilan komunikasi kita ke anak. 38% dipengaruhi intonasi suara dan 55% dipengaruhi bahasa tubuh

⛔Kalimat tidak produktif:
“Ambilkan buku itu !” ( tanpa senyum, tanpa menatap wajahnya)

✅Kalimat Produktif :
“Nak, tolong ambilkan buku itu ya” (suara lembut , tersenyum, menatap wajahnya)

Hasil perintah pada poin 1 dengan 2 akan berbeda. Pada poin 1, anak akan mengambilkan buku dengan cemberut. Sedangkan poin 2, anak akan mengambilkan buku senang hati.

c.  Katakan apa yang kita inginkan, bukan yang tidak kita inginkan

⛔Kalimat tidak produktif :
“Nak, Ibu tidak ingin kamu ngegame terus sampai lupa sholat, lupa belajar !”

✅Kalimat produktif :
“Nak, Ibu ingin kamu sholat tepat waktu dan rajin belajar”

d.  Fokus ke depan, bukan masa lalu

⛔Kalimat tidak produktif :
“Nilai matematikamu jelek sekali,Cuma dapat 6! Itu kan gara-gara kamu ngegame terus,sampai lupa waktu,lupa belajar, lupa PR. Ibu juga bilang apa. Makanya nurut sama Ibu biar nilai tidak jeblok. Kamu sih nggak mau belajar sungguh-sungguh, Ibu jengkel!”

✅Kalimat produktif :
“Ibu lihat nilai rapotmu, hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan, ada yang bisa ibu bantu? Sehingga kamu bisa mengubah strategi belajar menjadi lebih baik lagi”

e. Ganti kata ‘TIDAK BISA” menjadi “BISA”

Otak kita akan bekerja seseai kosa kata. Jika kita mengatakan “tidak bisa” maka otak akan bekerja mengumpulkan data-data pendukung faktor ketidakbisaan tersebut. Setelah semua data faktor penyebab ketidakbisaan kita terkumpul , maka kita malas mengerjakan hal tersebut yang pada akhirnya menyebabkan ketidakbisaan sesungguhnya. Begitu pula dengan kata “BISA” akan membukakan jalan otak untuk mencari faktor-faktor penyebab bisa tersebut, pada akhirnya kita BISA menjalankannya.

f. Fokus pada solusi bukan pada masalah

⛔Kalimat tidak produktif :
“Kamu itu memang tidak pernah hati-hati, sudah berulangkali ibu ingatkan, kembalikan mainan pada tempatnya, tidak juga dikembalikan, sekarang hilang lagi kan, rasain sendiri!”

✅Kalimat produktif:
“ Ibu sudah ingatkan cara mengembalikan mainan pada tempatnya, sekarang kita belajar memasukkan setiap kategori mainan dalam satu tempat. Kamu boleh ambil mainan di kotak lain, dengan syarat masukkan mainan sebelumnya pada kotaknya terlebih dahulu”.


g. Jelas dalam memberikan pujian dan kritikan

Berikanlah pujian dan kritikan dengan menyebutkan perbuatan/sikap apa saja yang perlu dipuji dan yang perlu dikritik. Bukan hanya sekedar memberikan kata pujian dan asal kritik saja. Sehingga kita mengkritik sikap/perbuatannya bukan mengkritik pribadi anak tersebut.

⛔Pujian/Kritikan tidak produktif:

“Waah anak hebat, keren banget sih”
“Aduuh, nyebelin banget sih kamu”

✅Pujian/Kritikan produktif:
“Mas, caramu menyambut tamu Bapak/Ibu tadi pagi keren banget, sangat beradab, terima kasih ya nak”

“Kak, bahasa tubuhmu saat kita berbincang-bincang dengan tamu Bapak/Ibu tadi sungguh sangat mengganggu, bisakah kamu perbaiki lagi?”

h. Gantilah nasihat menjadi refleksi pengalaman

⛔Kalimat Tidak Produktif:
“Makanya jadi anak jangan malas, malam saat mau tidur, siapkan apa yang harus kamu bawa, sehingga pagi tinggal berangkat”

✅Kalimat Produktif:
“Ibu dulu pernah merasakan tertinggal barang yang sangat penting seperti kamu saat ini, rasanya sedih dan kecewa banget, makanya ibu selalu mempersiapkan segala sesuatunya di malam hari menjelang tidur.

I. Gantilah kalimat interogasi dengan pernyataan observasi

⛔Kalimat tidak produktif :
“Belajar apa hari ini di sekolah? Main apa saja tadi di sekolah?

✅Kalimat produktif :
“ Ibu lihat matamu berbinar sekali hari ini,sepertinya  bahagia sekali di sekolah,  boleh berbagi kebahagiaan dengan ibu?”

j. Ganti kalimat yang Menolak/Mengalihkan perasaan dengan kalimat yang menunjukkan empati

⛔Kalimat tidak produktif :
"Masa sih cuma jalan segitu aja capek?"

✅kalimat produktif :
kakak capek ya? Apa yang paling membuatmu lelah dari perjalanan kita hari ini?

k. Ganti perintah dengan pilihan

⛔kalimat tidak produktif :
“ Mandi sekarang ya kak!”

✅Kalimat produktif :
“Kak 30 menit  lagi kita akan berangkat, mau melanjutkan main 5 menit lagi,  baru mandi, atau mandi sekarang, kemudian bisa melanjutkan main sampai kita semua siap berangkat



Salam Ibu Profesional,



/Tim Bunda Sayang IIP/



Sumber bacaan:

  • Albert Mehrabian, Silent Message : Implicit Communication of Emotions and attitudes, e book, paperback,2000
  • Dodik mariyanto, Padepokan Margosari : Komunikasi Pasangan, artikel, 2015
  • nstitut Ibu Profesional, Bunda Sayang : Komunikasi Produktif, Gaza Media, 2014
  • Hasil wawancara dengan Septi Peni Wulandani tentang pola komunikasi di Padepokan Margosari

Sesi Tanya Jawab
1. Teh Eka Abdi Negari
Saat kita bersemangat untuk belajar dan suami sangat mendukung waah rasanya bahagia sekali. Tapi jika dukungan itu tidak dibarengi dengan "sama sama" belajar ada rasa "mmh.. Ko saya merasa berjuang sendiri ya??" ada yg mengganjal di hati. Meskipun hal itu sudah disampaikan pada suami. Mmm.. berarti komunikasi dengan pasangan belum produktif kan?
Jadi apa yg bisa kita lakukan sbagai istri saat suami kita kurang berbinar2 dalam belajar parenting dan lebih meyerahkannya pada si ibu?
Jawab : 
Ketika ganjalan hati sudah disampaikan, bagaimana tanggapan suami?
Kenapa suami kurang berbinar-binar belajar parenting?
***
2. Teh Arini
Bagaimana agar komunikasi produktif dapat konsisten diterapkan sehari-hari? Sebelumya kondisi lingkungan keluarga saya  masih tinggal bersama mertua yang ternyata selama ini kami selalu menggunakan kalimat tidak produktif pada anak-anak maupun orang dewasa lainnya?
Jawab :
Latihan, latihannya harus konsisten dan terukur... Nanti akan ada tantangan berkaitan dengan ini.
***

3. Teh Zulfa
Sejak baru lahir saya selalu berusaha mencoba memberikan kalimat perintah dengan kata "tolong", "ayo", "mari" dll. Ataupun kalimat larangan menghindari bentakan or kata jangan dll. Tapi, disisi lain karena masih numpang dirumah mertua dengan banyak orang dan berbeda usia mereka kadang memberikan kalimat yang negatif seperti dijelaskan diatas. Bagaimana solusi supaya usaha saya tidak sia2 untuk mendidik anak?
Jawab :
Jika konsisten insyaa Allah tidak akan sia-sia. Solusinya perbanyak ngobrol berdua, membahas apa yang terjadi hari itu... Dan mana yang baik dan kurang baik.
***

4. Teh Indah
Teh bagaimana caranya kita berkomunikasi dengan orang dewasa lainnya yang cenderung defensif. Khususnya berkomunikasi dengan orangtua. Sudah sangat jelas FoR dan FoE nya berbeda sekali. Maksud hati berbagi pandangan tapi dari pihak orangtua selalu merasa disalahkan, padahal sudah disampaikan pada timing yang tepat, diksi yang dipikirkan dengan matang matang. Kurang latihan apa kurang sabar ya?
Jawab :
Tantangan ini yaa

Materi komunikasi produktif menjelaskan bahwa komunikasi dengan orang tua sarat dengan aspek emosi. Nah, kita bisa coba mencari titik sarat emosi yang tepat pada orang tua. Kemudian dari titik itu kita coba untuk berbagi pandangan.

Yuk terus berlatih dan sabar๐Ÿ˜Š
***
5. Teh Lia
Saya dibesarkan di lingkungan yang punya kebiasaan bicara/menanggapi sesuatu dengan kata2 pedes, meskipun tidak marah, dan nada datar tapi pilihan katanya lumayan nyelekit, itu yang saya rasakan dari kakek, nenek paman bibi (keluarga Bapak saya) orang tua saya, sekarang ke saya, memperlakukan anak dan suami kadang2 dengan bahasa judes, (walau tujuan nya tegas) apalagi disaat emosi, tapi kepada org lain yang tidak begitu, saya sangat menjaga sekali.
Saya ingin sekali menghentikan ini, karna saya sangat menyesal kalo sudah melakukannya, dan sepertinya sudah mulai menular kepada anak saya yang SMP, tapi kenapa susah banget mungkin karena sudah tertanam dari kecil, apa yang harus saya lakukan ya?
Jawab :
Kita ganti kata 'susah' menjadi 'menarik'   _ingat materi di poin komunikasi dengan diri sendiri_

Ada keinginan untuk menghentikan kebiasaan kurang baik dan merasa menyesal setelah melakukannya, ini poin plus untuk teh Lia.

Selanjutnya, kita niatkan dengan sungguh-sungguh mulai praktek komunikasi produktif.
Mulai dari diri kita sendiri, belajar berpikir positif, insyaAllah kata-kata yang keluar dari mulut kita pun positif dan membawa dampak positif pula.
***

6. Teh Mira Budi
1. Komunikasi dgn pasangan : biasanya sebelum berkomunikasi khususnya bertukar pikiran, pastinya masing2 sudah punya fondasi/alasan atas sesuatu yg akan dikemukakan. Tidak jarang pasti masing2 memiliki perbedaan persepsi seauai dgn FOR dan FOE nya. berarti kesimpulan saya harus ada kesamaan yang ditarik dari perbedaan yg ada, tentunya apa yg disampaikan itu harus memiliki ilmunya. Ambil lah bhw kesamaan nya itu ialah setiap masalah dikembalikan pada al quran dan hadits. Sehingga berangkat dari alas yg sama diharapkan komunikasi tdk menyimpang jauh. Tetapi bila hal yg dikomunikasikan tetap sj ada persepsi yg berbeda jauh dikarenalan pemahaman yg berbeda. Bagaimana seorang isteri harus menyikapi kesenjangan pemahaman?

2. Komunikasi dgn anak. Point K, ganti perintah dgn pilihan. Kapan kita memberi perintah dan kapan tepatnya kita memberi pilihan?

Jawab :
1. Kalau ada kesenjangan, berarti ngobrolnya kurang akrab. Seperti apa kata Pak Dodik, perbanyak kegiatan main dan ngobrol bersama.

2. Sejak dini..
Misal : Teh Chika berkomunikasi dengan putrinya Evelyn.

Evelyn mau bantu menyiapkan makanan atau merapikan kamar? Atau... Makannya mau dengan sayur atau makan sayurnya dipisah setelah makan?
***

7. Teh Novi
saya kesulitan menghadapi anak sulung saya (7 th). Kalau saya menyuruh sesuatu (misalnya shalat), jarang sekali langsung dikerjakan. Mulai dari saya bicara baik-baik sampai akhirnya saya kesal dan marah, belum tentu juga dikerjakan. Boleh minta masukannya seperti apa dan bagaimana saya menghadapi anak saya?
Jawab :
Evaluasi dulu, apakah kita sudah menanamkan Iman dan kecintaan pada Tuhannya. Karena jika anak sudah suka, cinta, pasti ia akan semangat berbicara pada Tuhannya. Kita juga begitu kan? Ini PR kita seumur hidup.

Apakah dengan memaksanya Shalat, ia menjadi cinta shalat?
Solusinya, mari kita belajar sama-sama untuk berkata dan bersikap positif dengan mempraktekkan komunikasi produktif.

Sering-sering ngobrol bareng anak tentang shalat, seberapa penting shalat untuk kehidupan kita.
***

8. Teh Mae
Mengenai komunikasi produktif bersama suami atau pun anak. Kebetulan saya terbiasa dengan kebiasaan berbicara singkat, bertanya detail karena dulu saya reporter majalah dan kuliah jurnalistik jadi ga bertele2. Sehingga ketika ngobrol sama anak suka tegas musal "dede ayo beresin mainanya kan katanya mau ice cream" sama suami pun begitu kalau tidak segera dilakukan saya suka jadi ngambek karena sering ditunda2 pkerjaannya. Bagaimana cara berkomunikasi yang pas. Padahal kalau ke orang lain mah bisa diatur tapi karena sm suami dan anak kadang jd seenaknya?

Jawab :
Jika komunikasi 'to the point' bisa diterima baik oleh suami dan anak, itu berarti pesannya sampai. Nah, 'tidak segera dilakukan' itu karena apa? Sudah dicross cek?

Suami dan anak-anak adalah pelanggan utama kita. Yuk kita mulai optimalkan praktek komunikasi produktif terutama di dalam keluarga kita.
***

9. Teh Nurul
Bagaimana kiat2 membangun komunikasi produktif setiap saat setiap waktu?
Jawab :
Kita mulai dari diri kita sendiri untuk selalu berpikir positif.
***
10.  Teh Eva
Apabila dalam pelaksanaannya, ada beberapa hal yang tidak bisa disamakan antara pendapat istri dan pendapat suami, bagaimana menyikapinya?apakah tetap dicari pendapat *kita* atau tetap jalan dengan pendapat masing2?
Jawab :
Tergantung pendapatnya apa. Rasa-rasanya tidak ada yang tidak bisa dicari titik temunya, jika sudah berkomunikasi dengan produktif. Terus berusaha, sambil memaklumi fitrah suami yang ingin istrinya patuh.
***

11. Teh Atin
Bagaimana cara memperbaiki pola komunikasi anak yg sudah terlanjur salah meng-copy dari kita orang tuanya?
Jawab :
Yang diajarkan bu Septi.. minta maaf pada anak, maafkan diri sendiri, lalu berlatih untuk berubah.
***
12. Teh Farah
1. Komunikasi dgn orang dewasa
Jika komunikasi menjadi tdk efektif, dan berujung kesal, dan lawan bicara tahu saya kesal. Saya lebih memilih diam, dan tidak mau membahasnya sama sekali, karena saya sadar itu kesalahan saya dalam berkomunikasi. Tapi, rata2 lawan bicara saya selalu "memaksa" mengclear.kan apa yang sebenarnya terjadi. Baiknya sikap saya seperti apa?

2. Komunikasi pada anak.
Saya pernah mengikuti kulwap tentang komunikasi pada anak. Kemudian, dalam pembahasannya diuraikan, bahwa ada anak yang memiliki tipe "untung", ada juga yg sebaliknya.
Contohnya begini :
"Klo ade mau es krim, ade harus bereskan dulu mainannya." Tipe untung.

Tipe anak yg sebaliknya.
Ade bereskan mainamnya dlu ya, nanti dapat es krim".

Dan kedua contoh itu ternyata memang beda efeknya, walau imbalannya sama2 es krim.

Lain waktu, saya menangkap kalimat itu seperti contoh d atas itu seperti sebuah "ancaman".
Nah, saya jadi bingung, bagaimana menyikapi anak yg tipe untung tanpa ada bahasa ancaman?

Jawab :
1. Putus jalur emosi, jeda sebentar... Setelah tenang, baru ungkapkan.. Misalnya: "Saya minta maaf, tidak bisa memastikannya saat ini, saya perlu berpikir lagi."

2. Yang saya pahami dari penjelasan Ibu Septi, pada anak menerapkan resiko dan konsekuensi. Bukan stick and carrot. Jadi sepakat dulu dengan anak. Adik mau yaa... belajar makan sendiri. Bunda senang dan bangga kalau adik bisa makan sendiri. Kalau adik makan sendiri selama 7 hari, kita makan es krim bareng yaa.


****

Mandiri dan Tanggung Jawab

๐ŸŽ๐Ÿ๐ŸŒCemilan Rabu #4๐ŸŒ๐Ÿ๐ŸŽ
Materi 2 : Melatih Kemandirian Anak

Mandiri dan Tanggung Jawab

Kemandirian dan tanggung jawab adalah dua hal yang saling mengikat dan tidak dapat dipisahkan. Karena salah satu hasil dari kemandirian itu adalah bertanggung jawab.
Tanggung jawab berarti:
1. Melakukan hal-hal yang benar semata-mata karena prinsip bukan karena orang lain yang memaksa untuk melakukannya
2. Membuat pilihan dengan bijaksana, setelah menimbang semua pilihan
3. Membuat diri dapat dipercaya dan diandalkan atas tindakan-tindakan yang dilakukan sendiri

Mengapa tanggung jawab pada anak itu penting? Ingatlah, tujuan akhir dari keseluruhan upaya yang kita lakukan dalam mendidik anak adalah memungkinkan anak-anak kita hidup tanpa kita. Bagaimana pun sayangnya dan berkuasanya kita, kita tidak bisa menjamin bisa mendampingi anak-anak sepanjang hidupnya. Suatu saat kita harus rela melepaskan anak pergi “mengepakkan sayap” mereka dan terbang meraih dunianya sendiri.

Maka dengan melatih kemandirian kepada mereka, secara tidak langsung sebenarnya orang tua juga sedang mengajarkan tanggung jawab sedikit demi sedikit sesuai dengan berjalannya waktu perkembangan anak. Keterampilan kemandirian yang dilakukan dengan konsisten, kontinyu, disertai dengan rasa ikhlas akan menumbuhkan tanggung jawab pada anak. Orang tua yang konsisten melatih kemandirian kepada anaknya sejak dini, akan mendapatkan sebuah perjalanan hidup yang menyenangkan pada diri anaknya dari masa kanak-kanak hingga dewasa. Orang tua akan menikmati proses langkah benar dan salah langkah sepanjang kehidupan anaknya, karena setiap tahapan yang dilalui membawa anak ke tingkat kemandirian dan tanggung jawab yang lebih tinggi.

Bila kita melihat kasus-kasus mengenai anak-anak yang "bermasalah", maka kita akan ditunjukkan bahwa sebenarnya anak-anak seperti itu kurang mempunyai akuntabilitas. Mereka tidak memahami apa artinya bertanggung jawab terhadap tindakan-tindakan mereka dan akibat-akibat yang harus ditanggung dari tindakan itu. Ketika seorang anak harus mempertanggungjawabkan tindakan-tindakannya, dia belajar lebih dari sekedar menyadari bahwa perilakunya mempunyai konsekuensi bagi dirinya dan orang lain. Dia juga belajar bahwa manusia tidak bisa hidup sendiri di dunia ini, mereka saling membutuhkan satu sama lain, mereka saling memiliki ketergantungan. Bila kita bertanggung jawab terhadap segala tindakan yang kita lakukan, sesungguhnya kita telah membuat sebuah perubahan dalam hidup ke arah yang lebih baik. Bukankah sebuah perubahan besar dimulai dari hal kecil? Maka mulailah melakukan hal kecil dalam kehidupan buah hati kita yaitu dengan membangun kemandiriannya.

Salam Ibu Profesional,


/Tim Fasilitator Bunda Sayang/





๐Ÿ“šSumber Inspirasi:
  • William Sears, M.D., Anak Cerdas: Peranan Orang Tua dalam Mewujudkannya, Emerald Publishing, Jakarta 2004
  • Marcus Rio Y., Cara Menumbuhkan Kemandirian dan Tanggung Jawab Pada Anak (2-6). www.antonrio.wordpress.com, 2010
  • Tri Pujistutik, S.Pd., Perilaku Mandiri, www.4stoety.wordpress.com, 2014

Sabtu, 18 Maret 2017

Aliran Rasa Melatih Kemandirian

Alhamdulillah . . . Level 2 bunda sayang dengan materi Melatih kemandirian berikut tantangan 10 hari nya berhasil dijalani dengan baik. Rasanya? Banyak turbulensi, terutama dalam mengahadi reaksi dan respon anak saat belajar mandiri.

Kadang lancar, kadang juga tidak. Dan kesabaran adalah peer bagi saya dslam menjalaninya

Minggu, 12 Maret 2017

Review Tantangan 10 Hari Kelas Bunda Sayang #1 Materi #2

MELATIH KEMANDIRIAN ANAK

Bunda, terima kasih sudah menyelesaikan tantangan 10 hari tentang “MELATIH KEMANDIRIAN ANAK”.

Pekan ini kita akan review berbagai pola kemandirian yang telah Bunda lakukan bersama dengan anak-anak di rumah.

KEMANDIRIAN erat sekali kaitannya dengan KONSISTENSI, seberapa konsisten kita melatih anak-anak untuk mandiri, akan berpengaruh pada  seberapa besar tingkat keberhasilan kita melatih anak-anak untuk menghadapi kehidupannya kelak tanpa bergantung pada orang lain.

Anak mandiri adalah anak yang mampu berpikir dan berbuat untuk dirinya sendiri. 

Seorang anak yang mandiri biasanya aktif, kreatif, berkompeten di bidangnya, tidak tergantung pada orang lain dan tampak spontan. Inilah beberapa  life skill yang perlu dimiliki oleh anak.

Ketika hari ini bunda bersusah payah melatih kemandirian anak-anak kita, maka

Jangan pernah menyerah, walau kadang kita merasa lelah

Hasilnya akan bunda lihat dalam beberapa tahun mendatang, tidak seketika. Sehingga hal inlah kadang yang menggoda keteguhan kita untuk bersungguh –sungguh mendidik kemandirian anak kita.

Karena kalau kita berhenti melatih kemandirian anak akan muncul perilaku negatif yang dapat menjauhkan anak dari kemandirian di usia selanjutnya.

Gejala-gejala tersebut seperti contoh di bawah ini:
a. Ketergantungan disiplin kepada kontrol luar, bukan karena kesadarannya sendiri. Perilaku ini akan mengarah kepada perilaku  tidak konsisten.

b. Sikap tidak peduli terhadap lingkungan sekitarnya, anak mandiri bukanlah anak yang lepas dari keluarganya melainkan anak yang tetap memiliki ikatan batin dengan keluarganya tetapi tidak bergantung pada keluarganya.

c.Sikap hidup kompromistik tanpa pemahaman dan kompromistik dengan mengorbankan prinsip. Gejala masyarakat sekarang yang meyakini segala sesuatunya dapat diatur adalah bentuk ketidakjujuran berfikir dan bertindak serta kemandirian yang masih rendah.

Kalau melihat gejala-gejala di atas, menyelesaikan tugas kemandirian anak  sekarang, sifatnya menjadi wajib dalam membangun peradaban dunia ini. Karena merekalah nanti yang disebut generasi penerus pembangun peradaban.

Berikut beberapa indikator yang bisa bunda lihat untuk melihat tingkat keberhasilan anak-anak kita secara global.

☘Ciri khas kemandirian anak :
a.    Anak mandiri mempunyai kecenderungan memecahkan masalah daripada berkutat dalam kekhawatiran.

b.    Anak mandiri tidak takut dalam mengambil resiko karena sudah mempertimbangkan hasil sebelum berbuat.

c.    Anak percaya terhadap penilaian sendiri, sehingga tidak sedikit-sedikit bertanya atau minta bantuan.

d.    Anak memiliki  kontrol yang lebih baik terhadap kehidupannya

Menurut Masrun dkk dalam bukunya jurnal kemandirian anak, membagi kemandirian dalam lima komponen sbb :

a.    MERDEKA, anak bertindak atas kehendak sendiri, bukan karena orang lain dan tidak bergantung orang lain

b.    PROGRESIF, berusaha mengejar prestasi, tekun, terencana dalam mewujudkan harapannya.

c. INISIATIF, mampu berpikir dan bertindak secara original, kreatif dan penuh inisiatif

d.    TERKENDALI DARI DALAM,  individu yang mampu mengatasi masalah yang dihadapi, mampu mengendalikan tindakannya serta mampu mempengaruhi lingkungan .

e.    KEMANTAPAN DIRI, memiliki harga diri dan kepercayaan diri, percaya terhadap kemampuan sendiri, menerima dirinya dan memperoleh kepuasan dari usahanya.

Kemandirian-kemandirian tersebut di atas akan sangat penting kita persiapkan hari ini, karena anak-anak kita nanti akan memasuki pendidikan abad 21, yang memerlukan ketrampilan kemandirian yang  lebih untuk mencapainya.


Sumber Bacaan :
-Masrun dkk, Jurnal Kemandirian Anak, diakses melalui www.lib.ug.co.id, pada tanggal 13 Februari 2016
-Institut Ibu Profesional, Bunda Sayang : Melatih Kemandirian Anak, Gaza Media,2016
-Trilling dan Fadel, 21st century skills, 2009

Ayah Bunda, Biarkan Anakmu Berproses

๐Ÿฎ๐Ÿ“๐ŸตCemilan Rabu #3๐Ÿต๐Ÿ“๐Ÿฎ
Materi 2 : Melatih Kemandirian Anak

Ayah Bunda, Biarkan Anakmu Berproses

Jika anak kerap meminta secara berlebihan dan selalu ingin dilayani, layaknya kita waspada. Apa yang terjadi pada diri anak kita kemungkinan sinyal bahwa ia tidak tumbuh menjadi anak yang mandiri. Namun jangan pula terburu-buru menyalahkan anak. Sebab apa yang terjadi tak lepas dari bagaimana kita mendidiknya.

Melatih anak mandiri memang bukan persoalan gampang. Seringkali orang tua bersikap ambivalen dalam menghadapi anak. Di satu pihak mereka menuntut anak menjadi mandiri, namun di sisi lain orang tua kurang berteguh hati untuk memberikan kesempatan pada anaknya untuk mencoba. Padahal keyakinan diri anak-anak tumbuh ketika mereka menyelesaikan aktivitas  kemandirian mereka. Bagi anak, dengan memberikan kontribusi dalam keluarga, mereka melihat dirinya sebagai anggota yang penting dari "tim" keluarga. Di samping itu, ketika mereka menguasai keterampilan baru mereka merasa berkompeten.

Sikap bijaksana orangtua memang sangat diperlukan dalam membentuk kemandirian anak. Orang tua tidak perlu bersikap terlalu melindungi. Berikanlah anak kebebasan untuk mengungkap segala keinginan dan pikirannya. Orang tua juga tidak perlu malu atau gengsi jika anak melakukan kesalahan.

Ukuran kebenaran bagi anak tidak dapat dilihat dari kacamata orang dewasa. Lagi pula dari kesalahan itu, anak akan belajar lebih banyak. Ingatlah, bahwa orang tua tidak selalu ada di samping anak untuk membantunya seumur hidup. Karena itu, ketika anak belajar mandiri, tunjukkanlah bahwa orang tua memperhatikan hal-hal yang mereka lakukan. Pujian dan dorongan akan memotivasi anak dan membuat mereka merasa bangga.

Anak-anak senang ketika mereka diliputi kehangatan yang mengalir dari persetujuan orang tua yang selalu mereka cari. Anak juga berharap orang tua memberikan tanggung jawab kepada mereka, Karena bila larangan itu hadir, kelak anak akan menjadi bingung dan kehilangan respek terhadap orang tua yang tidak memberikan kepercayaan dan tanggung jawab.
Maka Ayah Bunda biarkanlah anak  mandiri dan bertanggung jawab, meskipun hasilnya belum maksimal, terus fokus mendampingi anak berproses secara bertahap.


Salam Ibu Profesional,


/Tim Fasilitator Bunda Sayang/



๐Ÿ“šBahan Inspirasi :

Nina Chairani & Nurachmi W., penyunting. Biarkan Anak Bicara, Jakarta. Republika, 2003

William Sears, M.D., Anak Cerdas: Peranan Orang Tua dalam Mewujudkannya, Emerald Publishing, Jakarta 2004

Kemandirian Anak dan Adversity Quotient

๐Ÿถ๐Ÿซ๐ŸฎCemilan Rabu #2๐Ÿฎ๐Ÿซ๐Ÿถ
Materi 2 : Melatih Kemandirian Anak

Kemandirian Anak dan Adversity Quotient

Berbagai rutinitas harian anak, seringkali menantang dan menghadapkan kita pada pilihan apakah akan 'membantunya' atau 'melatihnya melakukan sendiri'. Sebut saja, misalnya: makan, memakai sepatu, mandi, membereskan mainan, dan lain-lain.

Dengan alasan 'sudah terlambat', seringkali kita pada akhirnya 'membantu' menyuapi si tiga tahun. Tak jarang juga, kita bantu pasangkan sepatu si dua tahun, hanya karena tak sabar melihatnya berproses memakai sepatunya. Lalu bagaimana dengan si 10 tahun yang akan berangkat sekolah? Dengan alasan yg kurang lebih sama, kita sibuk menyiapkan seragam dan berbagai kebutuhan sekolahnya.

Padahal, yang kita cita-citakan bersama tentulah mempersiapkan calon ibu yang tangguh, serta calon ayah yang penuh tanggung jawab bukan? Dan kemandirian sejak dini adalah kunci awalnya.

Maka, bila anak-anak kita yang masih berusia 0-1 tahun masih sepenuhnya bergantung pada orang lain di sekitarnya, seiring dengan pertumbuhannya, sepatutnya kita melatih juga kemandirian anak. Misal: anak usia 3 tahun sewajarnya bila sudah tidak disuapi lagi, dan anak usia 4 tahun sepatutnya sudah bisa membersihkan tubuhnya sendiri.

Adalah Adversity Quotient yang menggambarkan pola seseorang dalam mengolah tanggapan atas semua bentuk dan intensitas dari kesulitan. Menurut Paul G. Stoltz, Adversity Quotient merupakan kecerdasan menghadapi kesulitan atau hambatan dan kemampuan bertahan dalam berbagai kesulitan hidup dan tantangan yang dialami.

Adversity Quotient memiliki  tiga tingkatan dengan terminologi pendaki gunung.

1. AQ rendah
Mereka cenderung mudah menyerah dan tidak berdaya. Mudah menyalahkan orang lain tanpa memperbaiki situasi. Kesulitan yang dihadapi mempengaruhi semua aspek hidupnya sehingga selalu merasa dikelilingi kesulitan.  Seringkali menolak kesempatan yang diberikan. Mereka diidentikkan sebagai orang yang terhenti ( quitter)

2. AQ sedang
Memiliki banyak perhitungan. Mereka mampu memandang kesulitan sebagai sesuatu yang sementara dan cepat berlalu, tetapi ketika kesulitan itu semakin menumpuk, maka akan membuat putus harapan dan memandang kesulitan tersebut akan berlangsung lama dan menetap.

Seringkali sudah melakukan sedikit lalu berhenti di tengah jalan. Mereka mau mendaki meskipun akan berhenti di pos tertentu dan merasa cukup sampai disitu ( camper)

3. AQ tinggi
Inilah pembelajar seumur hidup. Mereka mempu untuk mengendalikan setiap kesulitan. Kesulitan yang muncul pada satu aspek kehidupan tidak meluas pada aspek yang lain. Mereka memandang kesulitan yang ada bersifat sementara dan cepat berlalu. Mampu memandang apa yang ada di balik tantangan tanpa memikirkan suatu hal sebagai hambatan. Mereka membuktikan diri untuk terus mendaki ( climber)

Pandu anak-anak supaya terbentuk AQ yang tinggi. Bukankah ini penting bagi mereka dalam menghadapi tantangan sehari-hari? Supaya mereka bisa melewati tantangan hidup. Menyelesaikan masalah, mulai dari yang sederhana hingga yang sulit dapat mereka lakukan dengan penuh percaya diri.

Salam Ibu Profesional,


/Tim Fasilitator Bunda Sayang/


๐Ÿ“šSumber Bacaan :
Stoltz, P.G. 2000. Adversity Quotient, Mengubah Hambatan Menjadi Peluang. PT. Grasindo

Jumat, 10 Maret 2017

Hari ke-10 APRESIASI KEMANDIRIAN

Sendal Jepit


Ini hari k-4 membiasakan Rais pakai sendal sendiri, karena pakai sendalnya mah udah bisa. Tapi sebelum program one week one skill Rais masih sering minta dipakaikan dan kalau ga dipakaikan, dia pergi tanpa alas kaki.

Sejak challenge 1 week 1 skill bunda tegasin dan tungguin Rais sampai mau pakai sendiri sendalnya kalau mau keluar rumah. Sendal yang biasa dipakainya kalau main dekat-dekat rumah adalah sendal jepit. Sendal favorit nya.hehehee... cumaa seringkali Rais pakai sendal jepitnya kebalik kalau pakai sendiri, duuh... tantangan syekali karena bikin gemes. ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

Kadang mau dikasih tau kalau sendalnya kebalik dan dia benerin, kadang juga dia cuek aja dan bilang "biarin" ๐Ÿ˜
Ada kalanya juga ngerengek minta dipakaikan, dan kalau ga dituruti lari keluar tanpa alas kaki. Walhasil pas malem-malem Rais udah tidur, ayah lihat telapak kaki rais merah dan sedikit bengkak. Sepertinya Rais injak sesuatu yang tajam, linu liatnya. Lalu saya bersihkan dan obati.

Besoknya Rais jalan agak jingjit karena luka it dan hikmahnya luka ini jadi pelajaran untuk Rais supaya mau keluar rumah pakai alas kaki.


Untuk latihan kemandirian husna, masih membiasakan supaya mandi sendiri, masing2 ma Rais dan alhamdulillah lancaar. Rais dan husna dah mulai mengerti kalau mandinya giliran aja. Ga boleh bareng ๐Ÿ˜Š


#hari10
#Level2
#KuliahBunSayIIP
#MelatihKemandirian